by

Perketat PSBB, Anies Dituduh Mau Jatuhkan Jokowi. Anda Waras?

Opiniindonesia.com – Seringkali, seorang kepala daerah dihadapkan pada dua pilihan. “Good looking” di mata penguasa dan pengusaha, atau ambil risiko buat warganya.

Kalau mau “good Looking“, ikuti penguasa dan ketua partai. Atau patuhi cukong. Dukung, apapun keputusan dan kemauannnya. Mau benar atau salah, abaikan. Jadilah “anak manis”.

Jangan ambil kebijakan kontroversial, apalagi bertentangan. Itu berisiko. Risiko dimusuhi. Risiko dibully. Risiko gak turun anggaran. Macam-macam risikonya. Apalagi penguasa punya pasukan buzzer plus dana Rp 90.45 M.

Jika anda hanya ingin “Good Looking” , berarti anda tak layak jadi kepala daerah. Anda lebih pantas jadi jongos. Jongos penguasa dan jongos pengusaha. Jongos biasanya ada otak, tapi sedikit. Ada hati, tapi mati. Mentalnya sudah kebeli. Tak punya kemandirian dalam bertindak.

Anies, gubernur DKI nampaknya memilih yang kedua. Kalau mau aman, tidak dibully, sedikit musuh, Anies gak perlu mengambil keputusan PSBB lagi.

Tapi, data Masifnya penyebaran covid-19 di DKI, risiko kematian yang tinggi, dan kapasitas rumah sakit yang terbatas, memaksa Anies harus mengambil keputusan berani. Suka tidak suka, harus dibuat keputusan itu.

Terhadap kebijakan PSBB ini, Anies dibully. Semua buzzer keluar dari sarangnya. Mereka dapat momentum. Sampai ada yang begitu emosional meminta Anies mundur.

News Feed