by

“Kalau Gitu Jancuuk Sampiyan!” Multikulturalisme Humor Madura

-D. JUPRIONO-2,303 views

Opiniindonesia.com – Dalam rangka membangun komunikasi antaretnis yang bersuasana multikultural, terhadap humor etnis tersebut, warga Madura hendaknya bersikap lebih positif dengan memperkecil ketersinggungan dan prasangka serta menyadari bahwa humor sebagai produk folklor diciptakan tidak berdasarkan fakta, tetapi prasangka dan stereotipe.

Sementara, etnis lain pun hendaknya tidak mendasarkan penilaian berdasarkan stereotipe, prasangka, dan etnosentrisme, serta mengembangkan reinterpretasi terhadap humor Madura dengan lebih mengapresiasi sisi positifnya.

HUMOR MADURA DI MATA ORANG MADURA

Ada sebuah humor Madura, yang sudah lama beredar luas di masyarakat, media massa, dan media msosial. Demi kelancaran diskusi humor tersebut kita beri judul ”Orang Madura dan Tentara” (1), sebagai berikut.

1) Di dalam bis kota yang berjubel penumpang, seorang penumpang yang berdiri bertanya kepada penumpang yang berdesakan di depannya yang badannya kekar, tegap, dan berambut cepak, yang juga tidak kebagian tempat duduk.

“Maaf, Pak, apakah sampiyan tentara?” (dengan logat khas Bangkalan!)
“Bukan.”
“Sampiyan angkatan udara?”
“Bukan juga.”
“Marinir ya?”
“Ah bukan … Ada apa to sebenarnya!” (dengan logat khas Jogja)
“O tahu saya, … sampiyan pasti polisi.”
“Polisi? Bukan!”
“Kalau begitu, … jancuk sampiyan!”
“Lho lho lho … kenapa marah?”
“Ini sampiyan ’nginjak kaki saya dari tadi.”

Tidak terlalu penting dipersoalkan di sini lelucon (humor) ini empiris faktual ataukah sekadar imajinasi fiksional. Humor etnis tersebut memang hidup dan menyebar di obrolan sehari-hari dan media massa, hingga sekarang.

Sebagai produk budaya lisan, humor ini anonim; siapa penciptanya sulit diketahui (Brunvand, 1968) serta tampak sepele. Akan tetapi, dari sudut pandang disiplin folklor, humor tersebut bukan soal remeh. Ia, misalnya, akan disorot sebagai sistem proyeksi (projective system) dan sebagai refleksi protes sosial suatu kolektif (Bascom & Wang dlm. Dananjaya, 1984).

Dari perspektif komunikasi lintasbudaya, isi humor ini dan juga interpretasi terhadapnya sarat dengan etnosentrisme, stereotipe, dan prasangka (cf. Rogers & Steinfatt, 1999).

Humor ini cukup menghibur—terutama bagi kolektif non-Madura. Bagaimana di mata kolektif Madura sendiri? Apakah semua lelucon yang menyangkut etnis Madura selalu dipersepsi sebagai humor di mata etnis ini?

Suka atau tidak, humor-humor semacam ini akan terus mengalir. Bagaimanakah seyogianya menyikapi humor tersebut dalam kerangka pengembangan komunikasi lintasetnis yang mengedepankan spirit toleransi, menghormati perbedaan, menenggang rasa satu sama lain? Di seputar persoalan-persoalan inilah diskusi ini digelar.

News Feed