by

Pentolan KAMI Ditangkap Polisi, Meredupkah Perlawanan Rakyat?

Opiniindonesia.com – Anton Permana ditangkap, menyusul kemudian Syahganda Nainggolan. Keduanya, dijemput mabes Polri, begitu kabar yang beredar di sosial media.

Tidak perlu surat panggilan, tidak perlu dijemput saat siang. Keduanya, ditangkap saat rakyat terlelap dalam tidur. Meskipun, keduanya adalah tokoh, dan jelas alamat tinggalnya.

Anton Permana, dituding menyebar kebencian dan permusuhan berdasarkan SARA. Lagi-lagi, pasal 28 ayat (2) UU ITE yang digunakan. Pasal kriminalisasi yang menjadi langganan untuk menjerat aktivis, untuk menjerat Gus Nur, Ali Baharsyah, Despianor, Rini Sulistiawati, dan yang lainnya.

Untuk Syahganda, belum ada kabar ditangkap atas dasar pasal apa. Yang jelas, penangkapan ini terjadi sesaat setelah lokasi target aksi tolak UU cipta kerja dipenuhi spanduk KAMI.

Entahlah, apakah negosiasi akan menghasilkan kabar KAMI dibalik dalang demo tolak UU Cipta Kerja sebagaimana dihembuskan rezim.

Selama ini, rezim menuding ada aktor intelektual dibalik demo tolak UU Cipta Kerja. Apakah penangkapan ini bagian dari skenario ‘dalang dibalik aksi’ untuk membenarkan tudingan rezim.

KAMI sendiri, telah tegas tidak terlibat dalam aksi, meskipun mendukung tuntutan buruh. Apapun release penangkapan Syahganda dan Anton yang keduanya aktivis KAMI, isu penolakan UU Cipta Kerja akan berbuntut panjang.

Bukan sekedar tuntutan pembatalan UU Cipta Kerja, boleh jadi juga tuntutan membatalkan presiden. Untuk tuntutan kedua, nampaknya MPR RI harus melakukan persiapan sejak dini sebelum prosesi itu resmi dimulai.

Penangkapan ini, diduga kuat adalah bagian dari strategi penggembosan perlawanan rakyat. Sungguh, satu sikap pengecut yang tak layak wujud dalam pribadi pemimpin.

Sikap garang dan bengis kepada rakyat sendiri. Tapi begitu menghamba kepada asing dan aseng. Ini pengecut !

News Feed