by

Agar Kita Tidak Salah menilai, Paduka Bukan Petruk

Opiniindonesia.com – Jokowi bukan Petruk, tapi dia diasosiasikan sebagai Petruk. Barangkali karena tubuhnya kerempeng. Ibu Megawati, ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pernah menyebutnya dengan julukan “si kerempeng.”

Apakah Jokowi marah atau tersinggung dengan sebutan itu, saya kira tidak. Dia hanya senyum – senyum saja. Bahkan ketika sudah jadi gubernur DKI, Joko Widodo mencium tangan ibu Mega dengan menundukkan kepala serta membungkukan badan. Hal itu kemudian ditiru oleh Dr. Ngabalin yang menundukkan kepala dan membungkukan badan, serta mencium tangan Jokowi, saat bertemu.
Simbolfeodalisme dijagat politik kekuasaan.

Sikap Ngabalin yang seperti itu terlihat “menjilat” antara bawahan pada atasanya. Dan juga menunjukkan sikap feodal. Padahal Ngabalin tidak lahir dari Jawa. Tapi bisa bersikap seperti orang Jawa. Jawa dalam kebudayaan lekat dengan feodalisme.

Kekuasaan yang lucu, bukanlah kekuasaan yang harus ditiru. Karena kekuasaan yang lucu datangnya bukan dari realitas sosial tapi dari kisah pewayangan. Kekuasaan para raja selalu digambarkan sebagai kekuasaan formal yang formatnya kaku, angker dan penuh wibawa. Untuk itu perlu dilenturkan. Maka para raja Pandawa punya punakawan. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

Semua anak Semar, pernah “mencicipi” jadi raja. Raja semalam, sebagai cerita carangan. Cerita yang dikarang oleh sang dalang. Petruk pernah jadi raja, raja dalam cerita pewayangan. Bukan kisah nyata. Maka Jokowi, bukan Petruk.

Jokowi adalah Presiden Republik Indonesia yang dipilih oleh rakyat secara sah. Bahkan dua kali berhasil menang melawan lawan yang sama. Prabowo – Hatta Radjasa dan Prabowo – Sandiaga Uno. Hebatnya lagi bisa menjadikan lawannya sebagai pembantunya.

Kisah kesuksesan Jokowi dalam politik itu sering menimbulkan iri hati bagi lawan dan kawannya. Tidak ada pemimpin yang melaju cepat dalam karier politik seperti dirinya. Dari walikota, gubernur sampai jabatan Presiden dilaluinya dengan cepat. Jokowi sebuah realitas dunia politik yang terang. Gampang dipelajari tapi susah untuk ditiru bahkan oleh anak keturunannya.

Dalam drama yang urung dipentaskan, karena covid 19. Cak Nun menulis naskah drama dengan judul “Paduka Petruk dan Sunan Sableng”, apakah naskah itu menyindir kekuasaan. Saya tidak tahu karena belum melihat pementasanya, apalagi membaca naskahnya. Seandainya Jokowi digambarkan sebagai Petruk, saya kira kurang tepat, karena Jokowi bukan anak Semar. Punakawan yang sebenarnya adalah dewa. Jokowi tentu saja bukan dewa. Tapi sering dianggap manusia setengah dewa, oleh para pemujanya.

Jokowi sering dipuji, tapi tidak jarang juga dihujat bahkan disuruh mundur. Yang lebih lucu lagi, sering disalahpahami. Pernah dituduh komunis, anti Islam dan keturunan Cina. Tuduhan itu tidak menjadikan Jokowi kalah dalam pemilihan presiden. Waktu lain dituduh kapitalis, karena berlatar – belakang pengusaha. Karena Jokowi kapitalis, maka kebijakannya tidak pro rakyat. Terbukti disahkankannya undang-undang Omnibus Law.

Jadi Jokowi komunis atau kapitalis, saya kira bukan dua-duanya. Jokowi tidak berlatar belakang ideologi besar itu. Terlalu absurd seorang pedagang mebel dari daerah yang bukan aktivis kelompok studi, mengusung ideologi besar dunia yang kompleks, ruwet dan canggih. Apalagi latar belakang kesarjanaanya juga dari jurusan ilmu eksakta. Insiyur kehutanan UGM.

Yang menilai Jokowi komunis pasti orang yang sebenarnya, juga tidak tau apa itu komunis. Penilaian yang diucapkan hanya berdasarkan interpretasinya dari bacaannya di dunia maya. Masyarakat selalu bersifat dangkal kalau bicara tentang ideologi besar dunia. Untuk itu penilaiannya sering ngawur.

Jokowi kapitalis mungkin ada betulnya, karena Jokowi secara pribadi seorang kapitalis lokal yang mengerti cara menggandakan modal. Seorang pedagang bisa secara serampangan dikatakan sebagai seorang kapitalis. Jadi mana yang lebih mendekati kebenaran Jokowi komunis atau Jokowi kapitalis. Menurut saya Jokowi adalah kita. Kita adalah Pancasila. Saya kira Itu yang tidak terlalu meleset jauh.

Seorang kawan dari Swiss menulis statusnya di facebook, katanya Jokowi komunis sekaligus kapitalis. Itu kan rancu. Dia melecehkan penilaian masyarakat yang malas belajar dengan kalimat, “Ono-ono wae,” katanya. Satu orang dilekatkan dua pengertian yang saling bertentangan. Komunis – Kapitalis.

Jokowi bukan Petruk, walau pun mungkin tau cerita tentang Petruk jadi ratu. Jokowi bukan boneka walaupun kadang dia menyadari bahwa dirinya berperan sebagai boneka. Boneka kepentingan global.

Yang saya katakan Jokowi dan REZIMnya adalah kapitalis, karena ideologi dunia itu sekarang tunggal adanya. Ideologi yang dominan ya kapitalisme. Jokowi menyadari itu dan tidak bisa keluar dari situasi itu. Komunisme sudah rontok secara teoritis, negara komunis terbesar didunia ambruk.
Sulit bagi negara berkembang tidak ikut arus global sekarang ini. Tidak salah Indonesia dinilai menerapkan sistem politik demokrasi liberal dan ekonomi kapitalisme. Ekonomi neo kapitalisme liberal.

Dari kacamata makro Indonesia bukan berada dalam wacana lokal. Paduka Petruk atawa Boneka dari dari Solo. Tetapi Indonesia ditengah pusaran Oligarki. Tarik-menarik dalam kepentingan global yang bisa menyengsarakan rakyat. Marilah kita letakkan pikiran kita ke dalam dinamika global agar kita tidak salah menilai. Menilai paduka bukan Petruk.

Oleh : Isti Nugroho, Aktivis pergerakan sosial dan politik.

News Feed