by

Beternak Domba, Merumput Odot, dan Akhirnya Panen Duit

Opiniindonesia.com – Kenapa domba? Ini hewan termasuk tahan banting. Jarang ada yang mati. Bahkan stres pun tidak. Jadi, tingkat resikonya sangat kecil.

Bagaimana kebutuhan pasarnya?

Rata-rata satu warung sate kecil saja butuh 1-2 ekor per hari. Artinya satu warung butuh sekitar 300-600 ekor per tahun.

Kalau bisa mengkaver sepuluh warung sate saja, sudah pasti puyeng itu kepala. Karena dalam setahun warung sate paling nggak buka 300 hari.

Di Yogya ada namanya warung sate klatak Pak Pong. Sehari setidaknya butuh 20-25 domba. Jadi, untuk satu warung sate ini saja perlu tersedia 500 ekor per bulan.

Atau per tahunnya butuh 6.000 ekor. Ini hanya Pak Pong saja. Padahal di sepanjang Jalan Imogiri Bantul itu ada 30 lebih warung sate.

Bagaimana makannya?

Mudah. Bahkan bisa tanam sendiri di sekitar kandang. Yang paling efisien dan gampang banget adalah tanam rumput Odot, yang pasti disukai banget sama domba.

Gizi atau nutrisinya juga paling pas dengan domba. Tinggal difermentasi dikit pakannya supaya kotorannya bisa sama sekali tidak berbau.

Apa saja hasil sampingannya?

Kotorannya bisa dikumpulkan dan diproses menjadi pupuk organik. Bisa dipakai sendiri untuk memupuk tanaman rumput Odot atau dikemas dalam plastik ukuran sedang dan dijual di toko-toko tabulampot. Semuanya bisa jadi duit lagi. Muter terus begitu.

Peternakan domba dengan sistem semi terpadu begini sangat cocok dilakukan oleh karang taruna. Jika bupatinya cerdas, anggaran dana desa yang satu milyar dan menjadi hak setiap kepala desa untuk mengelolanya itu, bisa diarahkan untuk membangun peternakan domba.

Karang taruna bisa dijadikan pengelola. Sehingga anak muda tak perlu meninggalkan kampungnya kalau hanya untuk mendapatkan penghasilan yang cukup untuk penghidupannya.

News Feed