by

Merakyat dan Menjunjung Tinggi Kerakyatan di Tangga Halte Bus Way

Opiniindonesia.com – Kami duduk di tangga ketiga paling bawah dari halte bus way. Di petang yang menyenangkan. Menyenangkan karena petang itu kami baru saja memborong banyak buku. Sambil menikmati kopi di pinggir jalan, kami membicarakan hal-hal penting dan yang kurang penting.

Yang penting tentu saja soal politik negeri ini. Demonstrasi buruh, pelajar dan mahasiswa, menolak undang-undang Omnibus Law yang baru saja terjadi. Membicarakan kawan yang ditangkap karena tulisannya di MEDSOS. Dan Sumpah Mahasiswa, yang pada tahun 80-an dinyatakan di kampus UGM.

Soal Sumpah Mahasiswa itu, setelah lama berlalu, kalau dilihat dari teori interpretasinya Paul Ricoeur atau Clifford Geertz dalam tafsir kebudayaan, Sumpah Pemuda tahu 80-an sebagai eskapisme politik mahasiswa atau plesetan politik, generasi pemuda – mahasiswa.

Sebagai kelanjutan dari generasi tahun 20-an. Yang menyatakan dengan anggun penuh kharisma sumpah pemuda. Generasi Sukarno tentu saja berbeda dengan generasi Mafnan Afnan Malay dan Untoro Hariyadi.

Dan yang tidak penting selalu tentang nasib kita masing-masing. Kawan saya memulai pembicaraan dengan membicarakan posisinya ke depan dalam hidup dan tugas sosialnya.

Setelah tidak menjabat di Istana, waktunya banyak digunakan untuk membaca, menulis dan menyanyi.

“Walaupun kita tidak begitu cemerlang bung, tidak salah kalau kita selalu merayakan hidup dengan bernyanyi,” begitu dia mengawali omongan.

“Bermain gitar, orgen dan drum, sembari menyanyikan lagu grup band The Rollis dan Black Bradres, tentang Hari Kiamat, menandakan kita sehat, jiwa dan raga,” tambahnya.

Setelah tidak menjadi pejabat lagi di suatu pemerintahan, pejabat yang tidak menjabat lagi itu, kembali ke hobinya masing – masing.

Ada yang kembali ke kampus untuk mengajar, ada yang meneruskan usahanya, kalau memang punya usaha. Dan ada yang seperti kawan saya itu, membaca, menyanyi dan menulis. Menulis di media sosial atau di surat kabar nasional.

News Feed