by

Jadikanlah Kegiatan Tulis Menulis sebagai Tradisi Kaum Santri

Opiniindonesia.com – Nabi memang ummi, tak bisa baca tulis tetapi beliau itu fatonah, cerdas. Sekali mendengar wahyu dari Jibril langsung merasuk ke hati dan hafal. Ayat-ayat itu kemudian diajarkan kepada kaumnya. Di antara yang diajari itu ada yang pintar baca tulis. Mereka itulah yang kemudian menullis wahyu. Ada Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, Zaid bin Tsabit dan lain-lain.

Para sahabat itu hanya menulis wahyu tidak menulis hadis, karena dikhawatirkan akan tercampur antara ayat alqur’an dan hadis nabi. Hadis dihafal tetapi tidak ditulis. Baru pada era kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz penulisan hadis dimulai. Khalifah itu memerintah Muhammad bin Syihab Az Zuhri menulis dan menghimpn hadis dari ulama Hijaz dan Syam. Juga Amrah binti Abdurrahman dan Qasim bin Muhammad bin Abu Bakr As Shidiq dari ulama Madinah.

Gayung bersambut, para ulama berikutnya meneruskan penulisan hadis itu. Ulama yang membukukan hadis pertama adalah Imam Malik. Karangan beliau yang terkenal adalah Al Muwatha. Kitab ini berupa kumpulan hadis terbaik di zamannya. Sang ulama hafal 100 ribu hadis beserta sanadnya. Kemudian dipilah-pilah diambil yang sahih 10 ribu. Lalu dipilih lagi yang paling sahih 5 ribu. Dan terakhir diseleksi kembali yang benar-benar sahih menjadi 500 hadis.

Kata beliau, “ Aku suguhkan kitab itu kepada 70 ulama Madinah. Ternyata semua setuju (waathaani) dengan isi karanganku. Lalu aku namai kitab itu dengan al muwatha”.

Ulama berikutnya juga melakukan hal serupa. Maka kita mengenal kutubus sittah, yaitu enam kitab induk hadis. Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Nasai, Sunan Abu Dawud, Sunan At Tirmizi dan Sunan Ibnu Majah.

Tidak berhenti disitu. Kemudian kitab-kitab itu disyarah, diringkas, diteliti, ditimbang-timbang lagi. Dipilah tema-temanya dan dibuat sistematika dan lain-lain. Pokoknya ditulis dan ditulis ulang yang lebih panjang, komplit dan tebal. Tujuannya satu, agar kaum muslimin paham terhadap ajaran agamanya. Itu baru bidang hadis.

Alqur’an juga dikupas tuntas oleh para mufassir. Dijelaskan ayat per ayat. Dikaitkan antara ayat dengan hadis. Diterangakan macam-macam bacaannya. Dijabarkan ayat yang mujmal. Dikeluarkan hukum-hukumnya bahkan juga dibongkar rahasianya. Semua yang dilakukan para ulama itu mereka tulis.

Hari ini, kita dapat leluasa menikmati belajar agama. Buka hape bisa langsung menelaah tema yang kita butuhkan, juga karena para ulama menulis tema-tema tersebut. Tanpa ditulis sungguh dunia ini gelap. Kita tidak mungkin mengerti ajaran agama yang diajarkan kenjeng Nabi.

Ahli agama itu ulama. Para ulama ketika belajar namanya santri. Dan para ulama itu bisa menulis karena sejak nyantri sudah belajar menulis. Dimulai dari mencatat penjelasan gurunya. Mencorat-coret kitab yang sudah lusuh. Naik tingkat menulis maqolah untuk didiskusikan dengan kawannya dan naik tingkat lagi menulis pengetahuan yang sudah ada di kepala. Maka ketika tulisannya dipelajari santri yang lain, saat itulah sang santri diperhitungkan.

Teks agama memang sudah banyak. Kitab babon tentang Islampun sudah dapat diinstal di androit. Kemajuan seperti ini bukan berarti santri tidak perlu lagi menulis. Mereka tetap harus menulis untuk memberi penjelasan kepada ummat tentang berbagai hal mutakhir yang dihadapi keum muslimin. Sebab setiap zaman ada tantangan dan setiap waktu terdapat masalah yang perlu dijelaskan. Agama itu dinamis, mengikuti dinamika zaman yang selalu berubah.

Menulis adalah jalan lurus santri untuk mengabdi kepada Allah. Menulis adalah cara mewariskan ilmu yang paling elegan. Menulis adalah cara pintar mendapat suntikan pahala tatkala si santri sudah tiada.

Zenuddin MZ itu mubaligh hebat, bahkan terkenal dengan da’i sejuta ummat. Di manapun ia berceramah di situ umat menyemut untuk mendengarkan. Ada beberapa buku yang mengulas tentang da’i tersebut, tetapi saya belum penah membaca buku karya sang da’i.

Hamka itu juga mubaligh, pidatonya bagus tulisannya juga tidak kalas bagus. Magnum opusnya adalah tafsir al azhar yang ia tulis saat di penjara selama dua tahun empat bulan. Saking lihainya Hamka dalam tulis menulis, pada jus 23 dirinya hanya butuh tiga minggu untuk menulis tafsirnya.

Hari ini kita masih dapat menikmati ceramah Zenuddin MZ karena memang wafatanya belum lama. Selain itu kita pernah mendengar suaranya yang khas, sehingga kadang-kadang kangen dengan ledekan-ledekan cemarahnya.

Tetapi anak-anak yang lahir pasca meninggalnya Zenuddin MZ, kemungkinan besar tidak pernah kepengin mendengar ceramahnya. Karena memang tidak kenal dan kedua eranya sudah berbeda. Sekarang eranya era tik tok.

Lain halnya dengan buku-buku karya Hamka seperti Tafsir Al azhar, Filsafat Hidup, Tasawuf Modern, Pendidikan Islam, Ayahku, Di bawah lindungan kakbah dan Sejarah Islam. Tulisan-tulisan itu diterbitkan ulang dan ulang. Oleh penerbit satu ganti dengan penerbit lain. Diproduksi dan dikaji di majelis taklim, bahkan dijadikan obyek desertasi dan ribuan karya ilmiah.

Santri pandai pidato dikenang umat sezamannya tetapi santri pandai menulis dikenang umat sepanjang zaman.

Oleh : Dr. Muh. Nursalim, Eseis dan Peneliti Sosial Keagamaan.

News Feed