by

Para Caleg Berlaga di Saat Hantu Pandemi Covid Sedang Meninggi

Opiniindonesia.com – Covid-19 yang belum terbendung di Indonesia banyak menjadi catatan bagi kita semua. Terutama untuk keselamatan bersama. Covid-19 menjadi hantu yang tiba-tiba menakutkan semua orang.

Yang jadi pertanyaan kita sekarang di tengah covid ini masih layakkah kita memaksakan untuk berkumpul dengan jumlah yang melebih kapasitas. Yang terkadang tanpa diluar kendali protocol kesehatan pun dilanggar. Termasuk penyelenggaraan Pilkada serentak.

Hal ini tentunya menjadi catatan kita bersama saat pemerintah sudah mengetuk palu terhadap Pilkada serentak. Seperti yang dikatakan Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti berpendapat bahwa saat ini lebih baik berbicara tentang penguatan demokrasi di tengah pandemi Covid-19.

Dia mengatakan, saat ini bukan saatnya lagi memperdebatkan antara Pilkada tetap lanjut atau ditunda mengingat pemerintah telah mengambil keputusan. Menurutnya saatnya para calon kepala daerah diawasi dan semua pihak untuk fokus pada tahapan Pilkada nanti. (harian Republika Tuesday, 3 Rabiul Awwal 1442 / 20 October 2020).

Selain itu kita juga sebagai warga harus memperhatikan rekam jejak sang caleg. Agar Pilkada yang banyak memakan biaya ini dapat memberikan manfaat yang luas kepada masyarakat.

Karena tanpa masyarakat Pilkada pun seakan tak berguna karena tidak ada yang memilih. Ada tiga indikator caleg layak maju bahkan mencalonkan diri sebagai calon legistlatif.

Pertama ia harus memiliki filosofis integritas. Ini penting sebagai calon dewan perwakilan rakyat. Caleg sebagai orang yang mengemban amanah rakyat.

Apalagi dengan kampanye yang gembar-gembor, janji-janji manis terucap lancar bak air terjun. Tidak terbukti saat terpilih. Maka ini jadi momok senjata makan tuan. Yang dapat menghancurkan karir politik caleg.

Banyak godaan manis ketika berada di pangung politik. Jika benteng intrgeritas tidak utuh pada diri caleg maka kemungkinan besar akan masuk ke dosa politik.

Kedua karakter atau tabiat bawaan sejak ia lahir ini harus menjadi perhatian sebagai caleg sebelum ia mencalonkan diri. Ini sebuah nilai yang harus dipenuhui oleh mereka yang ingin jadi caleg.

Karena jika memiliki tabiat yang buruk atau bahkan biasa dengan pura-pura. Maka bukan tidak mungkin ketika jadi caleg, kebijakan yang dikeluarkan tidak memihak untuk masyarakat, ditambah lagi kebijakan yang diambil para caleg tidak mengutamakan kepentingan rakyat.

Ketiga visi dan misi yang jelas pada diri para caleg. Jangan sampai para caleg ibarat orang yang berjalan tanpa arah. Bahkan tak tahu mana jalannya.

Karena dari awal ia tidak membuat visi dan misi jelas. Hal inilah pula yang membuat para caleg ketika dalam kerumunan politikus kehilangan arah bahkan ikut mengambil keuntungan yang bukan haknya.

Mungkin awal visinya macam-macam dan sangat menggiurkan. Tapi ketika jadi caleg semua hilang. Jadi dari pada maju kedua pikirkan ribuan kali. Atau tidak usah maju atau mengundurkan diri secara terhormat. Itu lebih logis dan menjanjikan.

Ketimbangan maju lagi dalam kodisi psikologi membawa dosa politik. Ini sangat berat bahkan bisa jadi jika tidak terpilih akan terganggu jiwanya.

Kalau terpilih wacana yang muncul dalam dirinya, bagaimana mengembalikan modal caleg ataupun menambahnya. Inilah yang disebut politik praktis. Kalau masih ngotot maju juga. Segera bertaubat nasuha kepada Allah SWT dan rakyat. Dengan keyakinan dalam diri untuk tidak mengulangi dosa politik.

Walaupun sebenarnya jika maju dan menang. Tetap sebagai masyarakat akan menilai caleg minus integritasnya, jelek karakternya, tak jelas visi dan misinya. Karena psikologi masyarakat ketika melihat caleg tertangkap KPK (komisi pembrantas korupsi) yang ada dibenak mereka. Hilang simpati bahkan tak dipercaya seumur hidup.

Semoga ini menjadi catatan penting bagi para caleg yang akan berlaga pada Pilkada serentak. Tidak hanya suskses terselenggaranya Pilkada ditengah covid-19 yang mencekam. Tapi suskses juga ketika menunaikan janji politik yang telah diucapakan di depan orang banyak.

Oleh : Al Firdaus, Guru SD Islam Cikal Cendekia Tangerang.

News Feed