by

Ibarat Pedang, Pastikan Terasah Sebelum Terjun ke Medan Tempur

Opiniindonesia.com – “Menulislah!” Itu pesan salah seorang ustadz yang masih aku ingat meski sudah bertahun-tahun berlalu. Saat itu hampir sebagian besar santri gemar membaca buku, namun hanya sedikit yang ‘mampu’ menulis.

Padahal, tulisan mereka bisa dibilang lumayan meskipun sekedar coretan diary atau cerita bersambung yang biasa diedarkan secara ilegal di kalangan santri.

“Baca, analisa, lalu tulislah kembali dengan bahasamu sendiri.”

Itulah inti nasehat beliau.

Mulailah saat itu aku membaca satu buku lalu merangkumnya, baca lagi lalu merangkum lagi. Sekedar itu, karena meski sampai saat ini aku tetap masih belum berani menganalisa.

Jadilah aku seperti anak kerajinan padahal rasanya biasa saja. Sampai akhirnya kebiasaan itu berhenti sendiri seiring kesibukan di kelas-kelas akhir.

Bertahun-tahun lamanya baru bisa aku memaknai pesan itu, mengapa beliau berpesan kepada kami agar belajar menulis dan bukan yang lain.

Tepatnya di saat media sosial mulai dikenal masyarakat. Sebuah wadah yang awalnya hanya sekedar untuk having fun telah berkembang menjadi medan perang pemikiran. Menjadi sarana yang paling berpengaruh dalam membentuk opini masyarakat.

Mulailah aku mengerti mengapa kita harus bisa menuangkan aspirasi dalam bentuk tulisan. Apalagi kala itu seorang gadis SMA yang sebut saja namanya Avi, membuat tulisan ‘cerdas’ di usia semuda itu.

Tulisan berjudul Agama Adalah Warisan itu bisa saja dibantah anak pesantren dalam beberapa menit, sayangnya tidak dalam barisan paragraf.

Liberalisme, pluralisme, dan isme-isme lainnya dikampanyekan di media sosial melalui tulisan-tulisan yang indah tapi membius, seakan benar tapi meracuni pikiran. Tersebar di dunia maya, viral, disukai dan dishare ribuan orang.

News Feed