by

Indahnya Mensyukuri Kecukupan Setelah Kekurangan

Opiniindonesia.com – “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan”. (QS. Adh-Dhuha, 8)

Masih terbayang peristiwa masa lalu, sekitar delapan tahun yang lalu.
Ketika itu, aku dan istriku serta anakku, Muna, dalam keadaan lapar yang sangat. Mungkin terlalu berlebihan kalau kukatakan bukan hari itu saja. Tapi berhari-hari.

Sebagai pendatang baru di kota ini, aku belum memiliki pekerjaan yang mapan. Pekerjaanku menulis lepas di sebuah situs tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami.

Hari itu, kami berjalan menahan lapar karena perut kosong ke Masjid Ash-Shahabah untuk mengikuti kajian ba’da Maghrib.

Mungkin sangat ironis kami duduk di majelis taklim dengan niat ganda. Bukan hanya untuk mengisi kehampaan dada kami terhadap ilmu. Tapi juga untuk mengisi kekosongan perut kami dengan makanan yang biasanya diberikan seusai kajian.

Selesai kajian dan makan beberapa gorengan yang disediakan sebagian muhsinin, saya dan istri ke toko terdekat untuk membeli tepung beras dan gula pasir.

Tahukah anda, kira-kira untuk apa?

Istriku sengaja membeli tepung dan gula itu untuk membuat jenang. Sejenis bubur dari tepung. Sebagai pengganti nasi yang kami tidak mampu untuk membelinya.

Mengingat kejadian kala itu, tak terasa mata ini berkaca-kaca. Tak kuasa membayangkan kesetiaan istriku selama ini. Ia setia mendampingiku saat bahagia dan saat susah.

Maka sungguh naif dan kejamnya aku kepada istriku, jika dalam keadaan yang lebih baik sekarang, aku tidak menyukuri apa yang telah dia baktikan selama ini kepadaku.

Oleh : Arif Rohman, Peternak ayam kampung.

News Feed