by

Janganlah Kau Duduk di Kursi yang Bukan untukmu, Alasannya?

-ANAB AFIFI-143 views

Opiniindonesia.com – Tersebutlah sebuah resto, lapak, warung, atau apalah sebutan sejenisnya, bernama Bostonprice Asia. Warung itu sudah lumayan eksis. Cukup lama: 24 tahun.

Ia menyajikan aneka menu masakan yang dibutuhkan oleh korporasi. Yaitu sajian layanan komunikasi korporasi dan business advisory services.

Sebagai warung masakan tentunya punya chef atau koki. Kebetulan sayalah koki itu.

Sebagai koki, tentu saja tempat saya di dapur. Seorang koki haram hukumnya menceritakan atau menilai masakannya. Betapa pun lezat masakan itu. Kecuali ada yang bertanya resep masak-memasak.

Sebagai koki, saya juga harus tunduk aturan: dilarang nongol di meja pelanggan atau ngintil pramusaji. Pokoknya, ya di belakang saja. Di dapur. Titik!

Kecuali memang pelanggan itu, seringnya karena penasaran atau ingin tahu, meminta kepada pramusaji untuk memanggil koki menemui pelanggan itu.

Contohnya, kemarin siang. Saya harus menghadap Sultan, istilah anak-anak internet marketing sekarang begitu. Ini Sultan bukan sembarang sultan seperti yang sering kita kenal di FB itu lohh. Tetapi presiden direktur sebuah industri gas yang grup usahanya sudah berusia 100 tahun.

Jadi, saya mesti hati-hati dan full ta’zim dalam menjelaskan menu-menu sajian warung saya.

Dulu-dulu, seringnya ya tatap muka langsung. Sejak pandemi ini, seringnya dengan Zoom.

Oh iya. Sebagai koki ya tidak boleh ada urusan dengan pemasaran dan jualan untuk eksiskan diri di depan pelanggan. Terkait hal itu, saya hanya menyiapkan menu masakan yang dibutuhkan orang marketing and sales. Saya harus membuat orang marketing saya sehebat-hebatnya di depan klien-kliennya.

News Feed