by

Saya Muslim Saya Indonesia, Bukan Itu yang Mesti Dipertentangkan

Opiniindonesia.com – Ali Mustafa Yakub, mantan Imam besar masjid istiqlal menulis buku, hadis-hadis bermasalah. Salah satu yang ia kupas adalah hadis yang sangat populer, yaitu hubbul wathan minal iman (cinta tanah air itu bagian dari iman). Hadis ini sering diceramahkan saat HUT kemerdekaan RI

Imam As Suyuthi mengomentari hadis tersebut dengan kalimat, lam aqif ‘alaihi (saya tidak menemukan). Demikian pula imam As Sakhawi berkata yang sama. Ungkapan tersebut dalam studi hadis adalah istilah lain dari hadis maudhu (palsu).

As Saghani dalam kitab Maudhu’at Shaghani juga menyatakan, hadis tersebut palsu. Demikian pula Imam Muhamad bin Darwis dalam kitab Asnal Mathalib fi Ahaditsi Mukhtalifati Al Mararatib menyatakan hal yang sama.

Singkat kata hadis itu bukan perkataan Nabi saw. Karena itu apabila tetap menyebutkan itu dari Rasulullah saw. Siap-siaplah menerima ancaman beliau. Man Kadzaba alaiya muta’ammidan fal yatabawwak maq’adahu minan nar (Siapa yang berdusta atas namaku bersiaplah masuk neraka).

Hadis hubbul wathan minal iman biasanya dipakai untuk membangkitkan rasa nasionalisme warga. Pendekatan Agama memang dibutuhkan untuk urusan ini. Sebab keberanian membela negara itu paling ampuh apabila yang menggerakkan itu keyakinan.

Rasa nasionalisme itu ditanamkan para pemimpin di setiap negara kepada warganya. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga di negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Mesir misalnya, lagu kebangsaannya sangat mewakili bagaimana perasaan rakyat negara Fir’aun tersebut.

Bilādī, bilādī, bilādī
Lakī ḥubbī wa fū’ādī
Bilādī, bilādī, bilādī
Lakī ḥubbī wa fū’ādī

Miṣr yā umm al-bilād
Anti ghāyatī wal-murād
Wa ‘alá kull al-‘ibad
Kam linīlik min āyād

Misr Anti Aghla Durra
Fawqa Gabeen Ad-dahr Ghurra
Ya Biladi ‘Aishi Hurra
Wa Aslami Raghm-al-adi.

Misru ya Ardi-nnaeem Sudti bil majdil-qadeem Maqsidee daful-ghareem
Wa ala-llahi-timaadi.

Misr Awladik Kiram
Aufiya Yar’u-zimam
Nahnu harbu’n wa’ salam
Wa fidakee ya bilādī.

Bilādī, bilādī, bilādī
Lakī ḥubbī wa fū’ādī

Artinya lagu tersebut adalah:

Negeriku, negeriku, negeriku.
Bagimu cinta dan hatiku.
Negeriku, negeriku, negeriku.
Bagimu cinta dan hatiku.

Mesir! Wahai tanah air ibu pertiwi.
Engkaulah harapan dan ambisiku.
Pun untuk setiap insan.
Betapa Sungai Nil-mu mengandung rahmat yang tak
terhingga.

Negeriku, negeriku, negeriku.
Bagimu cinta dan hatiku.
Negeriku, negeriku, negeriku.
Bagimu cinta dan hatiku.

Mesir! Engkaulah permata paling bernilai.
Sebuah mutiara di puncak keabadian!
Wahai tanah airku, merdekalah selama-lamanya!
Amanlah dari setiap musuh.

Negeriku, negeriku, negeriku.
Bagimu cinta dan hatiku.
Negeriku, negeriku, negeriku.
Bagimu cinta dan hatiku.

Mesir! Wahai bumi yang berlimpah nikmat.
Sejarah agung masa lalu sungguh mewarnaimu.
Ku ingin menghancurkan setiap musuh.
Hanya pada Tuhan ku bersandar.

Negeriku, negeriku, negeriku.
Bagimu cinta dan hatiku.
Negeriku, negeriku, negeriku.
Bagimu cinta dan hatiku.

Mesir Wahai putra-putra bangsamu yang mulia
Loyal dan generasi penerus bangsa.
Kami siap berperang dan berdamai.
Ku siap berkorban untukmu, wahai negaraku.

Negeriku, negeriku, negeriku.
Bagimu cinta dan hatiku.

Bandingkan lagu kebangsan nagaranya Muhammad Salah, pemain Liverpool tersebut dengan lagu wajib, Bagimu Negeri di bawah ini.

Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami

Kalau dimaknai tekstual lagu-lagu pembangkit rasa nasionalisme itu terkesan syirik. Sebab bagi umat Islam amat jelas proklamasinya. Inna shalati wanusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin (Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku untuk Allah Tuhan semesta alam).

Tetapi apabila dilihat memakai kacamata maqasid as syari’ah (tujuan syari’ah) sebenarnya antara Islam dan nasionalisme itu dapat dikomplementasikan (saling melengkapi).

Ada lima prinsip nasionalisme, yaitu kebebasan, kesatuan, kepribadian, kesamaan dan prestasi. Kelima prinsip ini sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Nilai kebebasan sejalan dengan firman Allah. Tidak ada paksaan dalam memilih agama, sesungguhnya telah jelas perbedaannya antara yang benar dengan yang sesat ( Q.S. Albaqarah: 256)

Nilai kesatuan seiring dengan firman Allah. Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah dan janganlah kalian bercerai berai. (Q.S. Ali Imran:103)

Nilai kepribadian sejalan dengan firman Allah. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya. kemudian kami kembalikan ke tempat serendah-rendahnya. (Q.S. At Tin: 4-5)

Nilai kesamaan seiring dengan firman Allah. Wahai manusia sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling menganal. (Q.S. Alhujurat : 13)

Adapun nilai prestasi sejalan dengan firman Allah. Wahai kaumku berkaryalah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berkarya pula. (Q.S. Hud: 93)

Karena itu para ulama pergerakan mensikapi perkembangan nasionalisme di negaranya masing-masing seperti ini.

Hasan Al Bana, pendiri Ikhwanul Muslimin Mesir dalam risalah Al Khamis mengatakan, “Hubungan antara Islam dan nasionalisme tidak selalu kontradiktif”.

Haji Agus Salim dalam konggres umat Islam di Surabaya tahun 1924 mengatakan, “bahwa nasionalisme berdasarkan Islam adalah memajukan negeri dan bangsa berdasarkan cita-cita Islam”. Pemikiran ini sejalan dengan Ahmad Hasan (tokoh besar PERSIS).

Kiprah para ulama tersebut dalam kemerdekaan RI akan lebih jalas menunjukkan bagaimana jiwa patrotisme mereka.

Haji Agus Salim bersama M. Natsir setelah proklamasi dibacakan Sukarno menemui Hasan Al Bana di Mesir. Tujuannya hanya satu meminta pendiri Ikhwanul Muslimin tersebut membujuk penguasa Mesir agar mengakui kemerdekaan RI.

Permintaan itu dikabulkan, sehingga kita ketahui Mesir adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI. Setelah dari Mesir beliau ke Palestina, Suriah, Arab Saudi, Irak dan Iran dan akhirnya negara-negara Timur Tengah itupun segera mengakui kemedekaan RI.

Dalam perjuangan fisik melawan agresi Belanda, para ulama adalah yang pertama menggelorakan jihad. Keluarnya resolusi Jihad dari Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan pekik takbir Bung Tomo bukti nyata patriotisme umat Islam.

Ada sebuah pesantren yang diragukan jiwa patriotisme santri-santrinya. Dalam sebuah wawancara, sang kyai menjawab begini.

“Kalau tentara Amerika datang ke sini untuk menjajah RI kami dan para santri adalah yang pertama menghadang mereka dengan apa saja yang kami punya”.

Walhasil. Saya muslim saya Indonesia. Itu bukan sesuatu yang mesti dipertentangkan.

Oleh : Dr. Muh. Nursalim, Eseis dan peneliti sosial keagamasn.

News Feed