by

Santri itu Selalu Bermanfaat bagi Orang Lain dan Keluarga

Opiniindonesia.com – Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak percaya itu. (Sayidina Ali bin Abu Tholib karamallohuwajha)

Seiring perjalanan waktu, kata “Santri” sering digunakan untuk menyebut kaum atau orang-orang yang sedang atau pernah memperdalam ajaran agama Islam di pondok pesantren.

Sementara kata “pesantren” oleh sebagian kalangan diyakini sebagai asal-usul tercetusnya istilah “santri.” 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “santri” setidaknya mengandung dua makna. Arti pertama adalah orang yang mendalami agama Islam, dan pemaknaan kedua adalah orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh.

Sehingga setiap orang yang pernah mondok di pesantren mendapat image sebagai orang Soleh yang rajin beribadah, tetapi tidak menutup kemungkinan banyak juga yang lulus di pesantren malah tidak seperti yang diharapkan menurut image yang sudah terpatri dipikiran pada umumnya.

Bahkan ada juga yang menyimpang, kalau boleh saya sebut sebagai “oknum santri” (ben rodok keren) seperti orang-orang di sana yang yang selalu menyebut kesalahan seseorang untuk menutupi kesalahan lainnya. Heehe

Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada tanggal 22 Oktober setiap tahunnya dan ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 22 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta.

Penetapan Hari Santri Nasional dimaksudkan untuk mengingat dan meneladani semangat jihad para santri merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang digelorakan para ulama.

Dengan momentum tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi sebagian yang pernah nyantri atau alumni pesantren yang ingin menunjukkan jatidirinya.

Tidak menutup kemungkinan ada juga sebagian alumni pesantren/santri yang merasa entah karena keikhlasannya atau mengamalkan kutipan terkenal yang saya tulis diawal untuk tidak mau menunjukkan jatidirinya sebagai santri.

News Feed