by

Bersyukurlah, Jangan Iri dengan yang Dimiliki oleh Orang Lain

Opiniindonesia.com – Kita itu sering berdecak kagum ketika melihat orang lain mengenakan barang mewah yang tidak dimiliki kebanyakan orang. Mungkin karena mahal atau bisa juga selain mahal barang itu hanya diperoduksi terbatas. Ada mobil mewah, baju mewah, hape mewah bahkan mungkin sekedar peniti mewah. Terus kemudian berkhayal, “Aduhai, seandainya saya bisa seperti dia.

Sikap seperti itu ternyata umum terjadi di masyarakat. Bukan hanya hari ini tetapi sudah berlangsung sejak zaman Qorun. Sebagaimana diceritakan Allah dalam alqur’an berikut ini.

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ [القصص/79]

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia , “moga-moga kiranya kita mempunyai seperti yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”

Menurut para mufassir saat itu Qarun keluar dengan iringan-iringan kendaraan yang berisi barang2 mewah. Juga budak dan dayang-dayang yang ia miliki. Bahkan Imam Qatadah mengatakan, Qarun keluar dengan empat puluh ribu kendaraan yang penuh dengan barang mewahnya.

Tidak diceritakan dalam acara apa orang kaya tersebut tampil sehingga perlu memamekan kekayaannya. Atau mungkin memang acara itu dibuat oleh Qorun sendiri untuk menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya adalah manusia terkaya sejagat. Karena terkadang ada orang kaya punya sifat seperti yang digambarkan Allah tersebut. Yaitu pamer kemewahan.

Pamer harta yang dilakukan Qorun itu benar-benar menghipnotis sebagian besar manusia yang menyaksikan, sehingga mereka menghayal bisa seperti Qarun. Sukses dan kaya raya. Tidak peduli bagaimana harta itu didapat dan untuk apa kekayaan itu digunakan. Yang penting kaya dan dapat hidup mewah. Walaupun mungkin cara meraihnya harus dilalui cara-cara yang keji dan busuk. Menipu kawan bisnisnya, merusak lingkungan, kolusi dengan penguasa, menjadikan keluarga sebagai tumbal bahkan menggadaikan iman dan keyakinan.

Paham “Yang penting kaya” ini ternyata juga merasuki banyak manusia hari ini. Sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan yang luar biasa dan menyengsarakan masyarakat secara luas, bahkan juga makhluk hidup lainnya. Mereka dapat menikmati kekayaan dan kemewahan di atas penderitaan manusia lain.

Itulah kaum materialis. Kenikmatan dunia menjadi tujuan hidupnya. Tidak peduli dengan balasan di akherat karena memang tidak percaya akan hal tersebut. Hidup adalah hari ini tidak ada kehidupan setelah mati. Itu mungkin yang ada dalam pikirannya.
Tetapi bagi orang-orang yang waras akalnya, kekayaan yang melimpah ruah itu bukanlah segalanya. Inilah komentar mereka.

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ [القصص/80]

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”

Ibnu Katsir memberi penjelasan tentang ayat ini dengan sebuh hadis Rasulullah sebagai berikut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « قَالَ اللَّهُ أَعْدَدْتُ لِعِبَادِى الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنَ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنَ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Allah berfirman, Aku sediakan bagi hambaku yang shalih sesuatu di mana mata belum pernah melihat, telinga belum pernah mendengar dana belum pernah terdetik di hati manusia. (HR. Bukhari)

Sesuatu yang disebut dalam hadis itu adalah balasan Allah di akherat. Itulah jannatun na’im, tempat kembalinya orang – orang shalih yang ketika hidup di dunia tidak terpukau dengan kemewahannya juga tidak membabi buta ketika mencari harta.

Orang shalih itu yakin adanya hidup setelah mati sehingga ketika mencari harta tidak memakai cara yang keji. Mereka mengerti etika berbisnis dan menjalankannya dengan penuh suka cita.

Keuntungan dicari tetapi bukan segala-galanya. Menjaga hak orang lain, merawat lingkungan, mentaati peraturan dan berbudaya halal menjadi gaya hidupnya.

Orang beriman yakin, rezeki itu telah dibagi Allah. Ada yang dimudahkan Allah dalam mencari ada yang dibatasi. Maka mensyukuri nikmat yang diberikan berapapun jumlahnya menjadi cara terbaik.

Masyarakat di zaman Qarun baru bersyukur atas nikmat yang mereka terima setelah manusia yang dikagumi ditenggelamkan Allah. Sebagaiman firmannya.

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ (81) وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ [القصص/81، 82]

Maka kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi, tidak ada satu golonganpun yang dapat menolongnya selain Allah dan ia tidak dapat menolong dirinya sendiri. Maka orang-orang yang kemarin berkhayal dapat kaya raya seperti Qarun berkata, Duhai benarlah Allah melapangakan rezeki bagi siapa yng dikehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki. Kalau Allah tidak melimpahkan karunia kepada kita tentu Allah juga membenamkan kita pula. Aduhai benarlah tidak beruntung orang-orang yang mengingkari nikmat Allah.

Akal mereka baru dapat berfikir setelah diperlihatkan azab Allah. Manusia zaman dahulu memang seperti itu. Azab sering diberikan seketika untuk memberi pelajaran kepada manusia yang lain. Tetapi saat ini azab “tunai” seperti yang diberikan Allah kepada Qarun jarang terjadi. Sehingga seringkali orang kaya semacam Qarun itu ketika membuat kerusakan menjadi massif dan lama. Spektrumnya luas dan korbannya banyak.

Bagi orang yang beriman cukuplah kisah Qarun menjadi pelajaran. Bekerja keras dalam mencari harta dilakukan dengan tetap menjaga etika, soal hasil Allah lah yang akan memberikan. Berapapun disyukuri, tidak perlu iri yang dimiliki orang lain. Walllahu’alam

Oleh : Dr Muh Nursalim, adalah seorang esais dan peneliti sosial keagamaan.

News Feed