by

Antara Kultur Pesantren dan Maulid Nabi Muhammad SAW

Opiniindonesia.com – Sepulang sholat duhur dari masjid kampung, si kecil Umar berseru “ayah aku dapat burung…” Sejurus kemudian saya melihat seekor burung mirip burung puyuh bertengger di sebuah kandang, si burung bergerak kesana kemari menunjukkan bahwa ia ingin sekali keluar dari kandangnya, ingin bebas berkelana sesuka hati. Kebebasannya kali ini terbelenggu.

Terbelenggunya kebebasan ternyata menimpa juga beberapa orang yang memilih sikap ‘opsisi’ terhadap pemerintah, contohnya sejumlah petinggi KAMI yang diciduk dengan dalih UU ITE. Tapi saya tidak akan bahas masalah politik ini.

Fokus saya kali ini tentang ‘penjara suci’ yaitu penjara bukan sembarang penjara, hanya ‘orang khusus’ saja yang ‘diciduk’ sebagai ‘tahanan’. Di penjara ini seorang ‘tahanan’ harus tunduk pada ‘protokoler’ yang ketat dan setiap sesi diawasi oleh ‘sipir profesional’.

Akan tetapi walaupun ‘terbelenggu’, banyak orang tua yang menginginkan anaknya masuk ke penjara ini. Harapan besarnya anak ini bermanfaat bagi orang tua di dunia dan akhirat.

Itulah pondok pesantren, sebuah kawah candradimuka bagi para santri. Pesantren berdiri sebelum lembaga pendidikan formal terwujud di negeri ini. Cikal bakal pesantren di Indonesia konon berdiri pada abad ke-18 yaitu Pesantren Tegalsari Ponorogo pada tahun 1742.

Pola pendidikan pesantren sudah ada sejak jaman bani israel, ini bisa kita telusuri melalui sejarah yang termaktub di Al Qur’an. Kita dapatkan kisah di Al Qur’an bahwa Maryam dititipkan ibunya kepada nabi Zakaria, jadi urusan pengasuhan dan pola didik diserahkan penuh kepada nabi Zakaria (sebagai seorang yang berilmu) semacam dipesantrenkan.

Dalam perkembangan kekinian, dunia pesantren sudah mulai merambah kancah internasional. Di Amerika -negara yang mayoritas non muslim- pun sudah mulai berdiri beberapa pesantren, salah satunya pesantren Nusantara Madani yang dipelopori oleh imam Islamic Center New York, ustad Syamsi Ali.

Momen maulid Nabi seperti sekarang ini adalah salah satu yang ditunggu-tunggu oleh para santri. Disamping mendapatkan ulasan yang menarik tentang pribadi agung Nabi Muhammad Saw, di momen juga kesempatan para santri untuk rehat sejenak dari rutinitas ‘protokoler’ pondok yang ketat, plus bonus hidangan istimewa. Semoga ini termasuk tanda barokah dari Allah.

Tetapi kultur tiap pesantren berbeda-beda. Bisa jadi pengalaman anda ketika nyantri tidak sama dengan apa yang saya tuliskan, terutama di momen Maulid Nabi Muhammad Saw. Alla kulli khallin selamat memperingati Maulud Nabi Muhammad Saw 1442 hijriah. Indonesia barokah.

Oleh : Aproni Samsuri, Guru Pesantren.

News Feed