by

Mengapa Penolakan Omnibus Law UU akan Semakin Keras?

Opniindonesia.com – Kajian Tentang Omnibus Law Cipta Kerja Dan Peraturan dari turunannya diperkirakan masih akan berkepanjangan. Bisa jadi justru menambah uncing dan runyamnya masalah perburuhan di Indonesia seperyi tak menemu ujung dari jalan penyelesaian.

Masalahnya bagi kaum buruh dan mahasiswa yang menjadi aktor utama dalam upaya menolak Omnibus Law Cipta Kerja bersama sejumlah elemen dam beragam kelompok pendukung kaum buruh dan mahasiswa yang menolak Omnibus Law Cipta Kerja semaki menguat dan mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan.

Omnibus Law Cipta Kerja itu belum selesai, tagap penabda tanganan oleh Presiden pun telah mendapat worning dari kaum buuruh dan serikat buruh. Sebab UU Vipta Kerja yang dipepatkan dalam Omnibus Law itu sudah dirinci ancamannya bagi hidup dan kehidupan buruh pada masa mrndatang di Indonesia. Karena itu mereka seperti mempertaruhkan hidup atau mati.

Jadi akan sangat ganjil jika kaum buruh hendak menerima ajakan pemerintah maupun DPR untuk membahas semua bentuk turunan Omnibus Law Cipta Kerja itu. Karena Omnibus Law Cipta Kerja itu sendiri sudah dianggap masalah.

Logika warasnya memang apa gunanya membahas anak-turunan Omnibus Law Cipta Kerja yang sudah cacat sejak awal mula kelahirannya dulu. Ibarat anak maling, mana mungkin bisa dipercaya tidak akan menjadi malung juga nantinya.

Sebab masalah Omnibus Law Cipta Kerja belum klier terbahas tuntas dan belum bisa diterima kehadirannya dalam khazanah perburuhan di Indonesia.

Semua memang jadi oke jika ditilik dari bilik dunia usaha seperti mripis dijelaskan oleh kawan-kawan dari Kadin maupun Apindo. Tapi bagi buruh banyak sekali hak-haknya yang di by pass.

Indikator dari penolakan untuk membahas anak turunan petaturan dari Omnibus Law Cipta Kerja ini jelas ditandai oleh aksi unjuk rasa yang masih terus berlanjut dan dijanjikan mau dilipat-gandakan massa aksinya dari berbagai daerah.

Kesadaran kaum buruh dan serikat buruh pun untuk nelakuksn aksi di Jakarta telah menjadi piligan strategis, karena bersuara di daerah nyaris tidak ada gunanya, meski sejumlah petinggi setempat — eksekutif maupun legislatif — sudah ikut pula bersuara baik di mimbar bebas atau pun dalam media lainya. Termasuk bersurat langsung kepada Prediden. Toh, seperti tak ada gunanya pula.

Ancaman kaum buruh dari berbagai daerah bersama mahadiswa dan kaum pergerakan lainnya melakukan aksi serentak di Jakarta sekedar untuk membuktikan bahwa mereka serius menolak Omnibus Law Cipta Kerja yang akan membuat masalah bagi kaum buruh di Indonesia suram masa depannya.

Fenomena itu pun ditandai oleh kepedulian para mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat lain, termasuk dari kalangan akademisi dan kaum cerdik pabsai lainnya.

News Feed