by

Satu Tahun Jokowi-Ma’ruf, Menuju Konsep Kekuasaan Hegemoni

Opiniindonesia.com – Tanggal 20 Oktober 2020 tepat satu tahun pemerintahan Jokowi-Maaruf. Bagi Jokowi ini merupakan periode kedua dari pemerintahannya. Tulisan ini hanya menyoroti perubahan relasi sosial sejak 2014.

Yang dimaksud relasi sosial adalah bagaimana ia menempatkan diri di tengah hubungan sosial dengan berbagai pihak. Pihak-pihak tersebut adalah massa pendukung, partai politik pendukung, kelompok usaha (oligarki), kelompok polisi, kelompok militer, massa lawan politik, partai politik yang beroposisi.

Pola sosiometri terhadap berbagai pihak tersebut, menggambarkan di manakah Jokowi-Maaruf menempatkan diri.

KONTRA SEMAKIN MEMBESAR

Relasi sosial adalah hasil dari rangkaian interaksi dan tingkah laku individu yang sistematis antara dua orang atau lebih, relasi sosial merupakan syarat untuk terjadinya aktivitas sosial yang dilakukan melalui proses interaksi.

Jika relasi sosial memburuk, maka akan terjadi situasi sosial yang tidak kondusif sehingga aktivitas sulit dilaksanakan.

Selama 1 tahun pemerintahan Jokowi-Maaruf telah terjadi perubahan relasi sosial yang menyebabkan kesepakatan dan dukungan dari lingkungan sosial melemah.

Dari tahun 2014 hingga awal 2020, klaster Pro Jokowi masih lebih besar dari Kontra. Namun setiap tahun, ukuran Kontra semakin besar, hingga akhirnya menyamai Pro Jokowi.

Hal itu dikatakan Pendiri Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi yang mengeluarkan analisa Big Data dari Drone Emprit, pasca demo besar-besaran penolakan Undang-undang Cipta Kerja 6-8 Oktober lalu.

Padahal pada bulan April 2020 Presiden Joko Widodo masuk dalam 10 besar pemimpin dunia yang mempunyai pengikut terbanyak dan terpopuler di facebook dengan jumlah pengikut sebanyak 9,7 juta dan persentase pertumbuhan pengikut sebesar 9,1 persen.

Jokowi berada pada urutan ke-7 setelah Presiden Brazil Jair Bolsonara pada urutan ke-6 dengan jumlah pengikut sebanyak 10 juta follower dengan persentase perkembangan pengikut sebesar 7,7 persen.

News Feed