by

Iman kepada Nabi, Sekaligus Mengimani Nabi sebagai Penjelas Alquran

Opiniindonesia.com – Kehadiran Nabi Muhammad saw adalah sebagai mubayin (penjelas) terhadap ayat-ayat alquran yang diturunan kepadanya. Sebagaimana firman Allah

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ [النحل/44]

Dan kami turunkan alquran kepadamu agar engkau menjelaskan kepada manusia apa-apa yang telah diturunkan kepadanya semoga mereka memikirkan.

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [النحل/64]

Dan Kami tidak menurunkan alquran kepadamu, melainkan agar engkau menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Mengimani Muhammad sebagai Nabi berarti mempercayai fungsi beliau sebagai penjelas alquran ini.

Penjelasan yang dilakukan oleh Rasulullah terkadang dengan perbuatan tapi juga tidak sedikit dengan perkataan atau sabda. Yang berupa perbuatan contohnya adalah sholat.

Alqur’an hanya memerintahkan dirikanlah sholat tetapi tidak ada penjelasan dalam alqur’an bagaimana tata caranya. Lalu Nabi saw bersabda, “Sholatlah kamu seperti aku sholat”.

Dalam ritual haji Allah juga berfirman:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ [البقرة/196]

Dan sempurnakan haji dan umrah karena Allah.

Kemudian Nabi saw menjalankan ibadah haji bersama para sahabat saat haji wada. Di tengah-tengah pelaksanaan ritual haji itu beliau bersabda:

« خُذُوا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِى لَعَلِّى أَنْ لاَ أَحُجَّ بَعْدَ حَجَّتِى هَذِهِ

Ambillah dariku manasikmu, karena aku tidak tahu apakah aku nanti bisa haji lagi setelah ini. (H.R. Ahmad)

Nabi melempar jumrah sahabat mengikuti, nabi cukur sahabat menirukan, nabi menyembelih hadyu pengikutnya meniru, nabi tawaf orang-orang juga melakukannya dan lain-lain.

Nabi saw. menjelaskan perintah haji dalam alqur’an dengan cara melakukan ritual haji.

Tetapi ayat tentang bulan-bulan haji Nabi saw menjelaskan lewat sabda beliau.

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ [البقرة/197]

Haji itu dilakukan pada bulan –bulan yang telah ditetapkan.

Ayat ini tidak ada keterangan bulan apa saja yang telah ditetapkan tersebut. Kemudian Rasulullah menjelaskan sebagai berikut.

عن أبي أمامة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في قوله عز وجل : الحج أشهر معلومات قال : « شوال ، وذو القعدة ، وذو الحجة

Dari Abu Umamah ra. Rasulullah saw bersabda tentang ayat “Haji itu di bulan-bulan yang telah ditetapkan” yaitu bulan syawal, dzulqa’dah dan dzul hijjah.

Pada hadis lain disebutkan bulan haji itu syawal, zulqa’dah dan sepuluh hari pertama dari bulan zulhijah. Pada bulan inilah ibadah haji sah dilakukan.

Maka seandainya berhaji tamatu, umrah wajib untuk hajinya dilakukan di bulan ramadhan maka hajinya tidak sah. Sebeb ramadan bukan bulan haji.

Tetapi bila dikerjakan di bulan syawal, baru kemudian menunggu sampai puncaknya haji yaitu tanggal 9 – 14 Dzulhijjah maka hajinya sah.

Dengan kedudukan Nabi saw sebagai mubayin (penjelas) alquran maka konsekuensinya kita mesti mempelajari hadis. Sebab di situlah ajaran Islam yang global dalam alqur’an diperinci, juga ayat-ayat yang maknanya tidak jelas diterangkan.

Said Hawa dalam kitabnya Ar Rasul mengatakan, “Pengetahuan tentang tiga asas pokok (Allah, Rasul dan Islam) wajib diketahui oleh setiap orang hingga ia dapat disebut sebagi seorang muslim. Karena tanpa pengetahuan yang benar atas ketiganya, mustahil akan muncul keimanan dalam diri yang mendorongnya untuk mengamalkan Islam.”

Pengetahuan tentang Rasul meliputi sejarah perjuangan dan hadis-hadis beliau. Karena Nabi saw diutus Allah memang untuk memberi penjelasan firman Allah yang diturunkan kepadanya.

Maka ketika Aisyah ditanya, bagaimana akhlaq Rasulullah. Beliau menjawab.

بْنِ عَامِرٍ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبِرِينِى بِخُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. قَالَتْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

Ibnu Amir bertanya kepada Aisyah, wahai ummul mukminin beritahulah aku bagaimana akhlak Rasulullah saw itu. Aisyah menjawab, Akhlaqnya Nabi itu ya alquran. (HR. Ahmad)

Begitulah. Iman kepada Allah tidak bisa lepas dengan iman kepada Nabi dan Iman kepada Nabi tidak bisa lepas dari mengimani Nabi sebagai penjelas alquran.

Kalau ada orang Islam hanya memakai alqur’an sebagai pedomannya, berarti sama saja dia tidak percaya kepada kenabian Muhammad.

Bila itu yang terjadi maka syahadatnya tidak komplit. Sebab syahadat itu isinya percaya kepada Allah dan Muhammaad sebagai Rasulullah. Wallahu’alam

Oleh: Dr. Muh. Nursalim, Eseis dan peneliti sosial keagamaan.

News Feed