by

Ya Muhammad SAW, Kami Hanya Rindu Padamu Ya Rosul

Opiniindonesia.com – Sebab cinta, kerinduan nabi Adam pada kekasih tercinta ibunda Hawa rela berpuluh tahun menempuh perjalanan untuk menemukannya. Kekuatan cinta sungguh dahsyat hingga bisa meruntuhkan tembok Sekat antara hamba dengan Tuhannya.

Atas nama cinta seorang Abu Thalib yang dengan bangganya mempersembahkan dua kambing jantannya sebagai rasa syukur atas kelahiran cucunya Abdul Muntholib, putra Abdullah, Muhammad SAW. Hingga cinta telah membuat air mata Rosullulloh untuk pertama kalinya menetes atas kepergian istri tercintanya, Khadijah.

Berbicara tentang Cinta tak akan ada habisnya, disana ada kerinduan, keindahan, kasih sayang, kenangan, pengorbanan, perjuangan bahkan ada air mata dan bisa mengakibatkan deritanya tiada akhir. Dalam sebuah karya sastra pun selalu dibumbui dengan kisah cinta biar lebih menarik.

Karenanya puncak keindahan tertinggi dalam kehidupan adalah cinta, orang yang sedang jatuh cinta akan selalu menyebut nama orang yang dicintai, mengikuti apa yang disukai kekasihnya.

Tak mampu untuk tidak mematuhi apa yang diinginkan kekasih hatinya meski tak selalu tak berada disampingnya, seperti ungkapan Imam as-Syafi’i, hakikat cinta akan mengantarkan siapapun melakukan apapun yang diminta kekasihnya. Konsepsi cinta dalam agama pun juga harusnya demikian.

Ketika nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam menjelang akhir hayatnya, beliau menyebut ummati sampai tiga kali, ini merupakan bentuk kecintaannya pada umatnya yang selalu di benak pikirannya.

Bahkan beliau memohon kepada Alloh, sakitnya sakaratul untuk dibebankan kepada beliau supaya umatnya tidak menanggungnya, itulah bentuk pengorbanan tertinggi seorang nabi yang sangat mencintai umatnya.

Nabi Muhammad adalah kekasih Alloh, sampai-sampai Alloh pun memerintahkan kepada manusia dan para malaikat supaya selalu bershalawat kepada Rosullulloh, hanya perintah shalawat yang Alloh sendiri pun ikut melakukannya.

“Aku beragama dengan agama cinta, dan aku selami relungnya, cinta adalah agama dan keyakinanku,” senandung Ibnu ‘Arabi dalam puisinya, dan telah lebih 14 abad.

Kita, umat Islam bertahan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW. Risalah Islam yang mengajari kita tentang cinta, harmoni dan kerinduan, sehingganya yang tersisa pada kami hanya Cinta.

News Feed