by

Kebesaran Nabi Muhammad SAW Tidak akan Runtuh dengan Cacian

Opiniindonesia.com – Akhir-akhir ini berita pernyataan Presiden Prancis membuat masyarkat Islam dunia geram. Karena dengan dalih kebebasan bereskpresi ia berani menghina Nabi Muhammad saw.

Seperti dikatakan Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Nasyirul Falah Amru. Meminta Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta maaf kepada umat Islam.

Hal tersebut menyusul adanya pernyataan Macron terkait Islam dan karikatur Nabi Muhammad SAW. “Pernyataan dan sikap Presiden Macron itu telah membuat hati umat Islam sedunia sakit.”

Bahkan imam besar Al-Azhar Syeh El-Tayyeb, pernyataan itu dibuat untuk mendapatkan keuntungan politik dengan mengkambinghitamkan agama Islam.

Karenanya, El-Tayyeb memperingatkan dampak dari pernyataan Macron tersebut dapat membangun budaya kebencian dan rasialisme serta melahirkan terorisme. (harian republika, Wednesday, 18 Rabiul Awwal 1442 / 04 November 2020).

Dari pernyataan di atas jelas umat Islam tersakiti oleh pernyataan yang tidak pantas oleh seorang yang bergelar Presiden Prancis.

Negara maju yang menjujung tinggi kemajuan bersama. Dan jumlah orang muslim Prancis pun cukup banyak hampir 8,5 persen. 75 masjid pun sudah dibangun disana termasuk sekolah Islam.

Itu artinya Islam sudah dekat dengan warga Prancis. Apalagi seorang Presiden tentunya sedikit banyak akan tahu ajaran-ajaran Islam. Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi Macron untuk mengeluarkan pernyataan yang menghasut untuk membenci umat Islam.

Apalagi mengingat Nabi Muhammad SAW, orang yang sangat dimuliakan dalam ajaran Islam. Jika Marcon ingin menelisik betapa sangat dekat umat Islam dengan Nabinya. Pertama, dari sudut nama Muhammad saja sudah bersanding dengan Allah SWT.

Tuhan yang Maha satu yang ditauhidkan oleh umat Islam. Atau biasa yang disebut dengan syahadat, itu sebagai persaksian awal ketika orang akan masuk Islam.

News Feed