by

Mengembalikan Kejayaan Literasi Islam Melalui Pesantren dan Santri

Opiniindonesia.com – Dulu waktu zaman nyantri, hampir saya tidak melihat teman-teman yang memberikan waktu khusus untuk menulis. Saya pun juga begitu. Dulu itu apa sih menulis, terpikirkan saja tidak pernah.

Kalau tulis status ya iya, siapa sih yang tidak suka tulis status. Tapi hanya sebatas ya menulis status. Zaman ABG statusnya galau-galau ala santri begitu lah. Lebih dari itu paling menulis diary tentang ketidakbetahan dipesantren. Cerita tentang kakak kelasnya yang suka marah-marah, suka menghukum adik kelasnya.

Salah dikit kena hukuman. Menggerutu sendiri. Kadang kalau lagi ada keluaran sore ghibahin kakak kelasnya yang paling menyebalkan. Tidak bagus sih, tapi inilah yang terjadi diseluruh pesantren saya yakin. Kakak kelas yang jadi pengurus pasti jadi bahan gunjingan.

Pindah lembaran diary pindah juga pembahasan yang dicurahkan. Kadang menulis tentang santriwati yang tidak sengaja bertemu ketika keluaran sore. Anda tahu, sebagai santri ketemu bidadari berjilbab lebar berwarna hijau itu deg-degannya luar biasa.

Kalau bahasa sekarangnya, auto ghadul bashar. Jika ternyata sedang berjalan satu jalur yang berlawanan arah, kita akan otomatis pindah jalur. Saking groginya waktu itu.

Biasanya sih menulisnya sambil senyum-senyum sendiri kalau perihal ini, namun untuk bagian kakak kelas itu tak terasa kadang sebutir air jatuh dari pelupuk mata. Nangis. Mau bilang orang tua takut tambah dimarahin . Hehe

Yang saya lihat, menulis bagi santri waktu itu hanya sebatas curahan, bukan kebutuhan. Masih sangat sempit. Bukan topiknya yang sempit tapi kita sendiri yang menyempitkan itu. Ibarat karet, topik menulis itu bisa melar kemana-mana.

Dari diary tentang santriwati dan kakak kelas yang suka menghukum sampai kepada kehidupan santri sehari-hari dari segi pengamalan mereka, kelucuan mereka saat menggunakan bahasa arab dengan gaya bahasa Indonesia, dan kegembiraan mereka ketika suara toa diruang tamu memanggil nama mereka. Aha ini pasti orangtuaku datang bawa makanan hehe.

Ada banyak hal yang bisa digali dari kehidupan pesantren. Apalagi untuk melatih kemampuan menulis seorang santri. Bahkan dari setiap mata pelajaran yang diajarkan di pesantren bisa dibuat untuk melatih skill menulis seorang santri.

Coba saja, misalkan seorang ustadz mengajarkan nahwu. Apa yang sudah dipahami oleh santri, maka ustadz memberikan tugas membuat karangan kepada santri tentang materi seputar nahwu itu dengan gaya bahasa masing-masing santri.

Di samping melatih skill menulis, pemahaman santri juga akan semakin kuat. Karena biasanya menulis ulang dengan gaya bahasa sendiri apa yang sudah dipahami akan meningkatkan kemampuan santri dalam memahami materi itu.

Ada lagi pelajaran insya’ yang seharusnya menjadi dasar santri untuk bisa menulis kadang malah disepelekan dalam artian tidak diajarkan dengan semestinya.

Coba saja ketika waktunya pelajaran insya’, setiap santri ditugaskan untuk membuat karangan setengah halaman dengan kemampuan bahasa arab masing-masing.

Tidak masalah salah, karena hidup tidak akan terlepas dari kesalahan. Tinggal bagaimana kita memperbaiki kesalahan itu dari waktu ke waktu.

Zaman saya nyantri, buku insya’ hanya dibaca, praktek menulisnya yang jarang. Inilah yang mungkin menjadi salah satu sebab lulusan pesantren tidak bisa membuat tulisan. Ironis memang tapi beginilah fakta di lapangan. Tidak semua lho ya.

Jika santri dibiasakan seperti ini, niscaya minat dan tumbuh kembang santri dalam menulis akan muncul dengan sendirinya. Menulis seperti ini membuat saya terbayang akan era keemasan kekhilafahan umawiyyah di Andalus yang mampu bertahan selama 8 abad.

Tidak terhitung ribuan ulama dari segala macam disiplin keilmuan lahir dari Andalus. Dan setiap satu ulama pasti memiliki lebih dari satu karya. Sebut saja Az-Zahrawy dalam bidang kedokteran, ia disebut-sebut sebagai bapak bedah dunia. Ia berasal Andalus.

Ada lagi Ibnu Hazm pengasas Madzhab Dhohiri pemilik kitab Al-Muhalla yang terkenal itu. Ada lagi Ibnu Rusyd pemilik kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid. Dan masih banyak lagi ulama-ulama lain yang tidak bisa disebutkan disini satu persatu.

Memang saat itu Khalifah Abdurrahman Nashir ke-3, semangat-semangatnya mengembangkan literasi keislaman. Sampai-sampai Eropa pada saat itu berkiblatnya ke Andalus. Banyak dari raja-raja Eropa yang berobat ke Andalus karena majunya ilmu kedokteran di Andalus pada saat itu.

Kisah-kisah diatas hampir luput dari mata pelajaran pesantren. Akibatnya, santri menjadi kurang peduli akan kehebatan literasi ulama-ulama islam dari waktu ke waktu.

Tulisan ini saya buat atas dasar keresahan, Dan harapannya tulisan yang sangat sederhana ini bisa sampai pada pemangku kepentingan di Pesantren. Jika tidak berarti banyak setidaknya mampu memantik semangat para santri.

Jangan lupa, bahwa literasi umat islam pernah sekeren itu. Ayo bersama kembalikan kejayaan itu. Karena menjadi santri tak sebercanda itu kawan.

Oleh : Adi Rahman Hakim, Mahasiswa Islamic Call College, Tripoli, Libya.

News Feed