by

Ayah adalah Sosok Pahlawanku, Selamat Hari Pahlawan

Opiniindonesia.com – Hari kamis yang tidak bisa kugambarkan dengan sempurna kawan

Di kala pohon-pohon karet tak mau bercerita
Tanah berminyak jadi sejuta harapan seribu tahun lagi

Hati yang tak mau menggetarkan asa
Wajah pucat yang keras ditampar ganasnya hidup

Dia membisik padaku jangan takut
Hadapi…itulah dia ayahku.

(Joglo, 06-11-2020)

Tulisan di atas merupakan cuplikan puisi yang penulis buat ketika mendengar lagu berjudul everglow karya Coldplay grup musik asal Inggris. Pada akhir lagu tersebut digambarkan sosok Muhammad Ali legenda petinju kelas dunia menginpirasi orang-orang Amerika di sana. Terutama tentang ketuhanan.

Bagaimana ketika Muhammd Ali di tanya, “mengapa anda tidak memiliki bodyguard sebagai pelindung anda? Dia menjawab. ”Allah SWT yang menjaga saya,” ucapnya di sesi wawancara di youtobe Noky Group Tv.

Muhammad Ali jadi panutan bahkan jadi pahlawan bagi petinju lainnya termasuk Mike Tyson. Hal tersebut merupakan contoh tentang sosok Pahlawan.

Mungkin jika ke sana kita terlalu jauh. Coba kita melihat di sekitar kita. Yaitu ayah kita sendiri. Kita mungkin tidak sadar bahwa selama ini ayah kita sudah banyak mengorbankan apa saja dalam hidupnya demi kebahagian seorang anak.

Dia mungkin tidak bisa tidur nyeyak di malam hari karena harus menjaga seorang anak. Seorang ayah rela wajahnya menjadi keras diterpa panasnya mentari, derasnya hujannya dan dinginnya udara demi seorang anak.

Bahkan ketika seorang anak akan terjatuh seorang ayah dengan gerak cepat mengindarkan seorang anak tersebut dari bahaya agar tidak ia tidak terluka.

Selama ini bisa jadi kita lupa terhadapnya. Karena kesibukan kita dengan teman-teman hingga pulang larut malam. Sampai kita tidak pernah menegur ayah kita sendiri.

Atau ketika berkerja kita tidak pernah menyapa, walaupun hanya untuk mencium tangannya. Atau yang lebih intim lagi kita tidak pernah mendengarkan rintihannya.

Padahal pasti dalam kehidupan yang berputar ini ia merasakan kehidupan menyakitkan.

Atau kita belum sampai pada level membahagiakan orang tua kita yang artinya setiap gerak-gerik kita membuatnya senang. Dan itu menjadi kebanggaanya dalam hati.

Pernahkah kita bertanya mengapa Allah SWT memasukan orang tua kita pada surat Al- Isro di dalam Al-Qur’an. Yang memiliki artinya kurang lebih seperti ini.

”Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Allah dan hendaklah berbuat baik kepada Ibu dan bapak. Jika kedua orang tuamu berusia lanjut dalam peliharaanmu, maka sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan engkau membentak mereka dan berbuat baiklah kepada keduanya. Berkatalah kepada mereka dengan perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah,” wahai Tuhanku. Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik dan menyayangiku sejak kecil.” (Q.S Al- Isra ayat 23-24)

Hal tersebut sebagai tandanya posisi orang tua kita di sisi Allah SWT istimewa. Maka sudah sepatutnya kita menyayangi mereka. Mungkin banyak di antara kita terlalu muluk-muluk terhadap ingin membagiakan orang tua.

Dengan membelikan mereka segalanya. Walaupun itu tidak salah. Tapi yang diutamakan Al-Qur’an adalah menggauli orang tua kita dengan sangat baik. Jangan berkata kasar kepada kedua mereka. Al-Qur’an menyebutnya uffin.

Termasuk ketika bersikap. Sikap kita terhadap orang tua harus beretika. Al-Quran menyingung katakan kepada mereka perkataan yang mulia.

Kata-kata karim pada ayat tersebut merupakan asma-asma Allah yang baik. Maha karim. Allah letakan sifat itu supaya kita memuliakan orang kita dengan perkataan yang sangat baik. Dan rendahkanlah sayapmu dihadapan mereka.

Kelebihan yang kita miliki saat ini, seperti jabatan, keilmuan, bahkan kekayaan jangan sampai membuat kita tinggi hati dihadapan orang tua kita. Karena itu akan menghilangkan keberkahan pada apa yang kita miliki.

Dan Al-Qur’an mengajak kita untuk mendoakan orang tua kita kepada Allah SWT, “Ya Allah sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah menyayangiku sejak kecil dulu.”

Sejatinya ayah kitalah, pahlawan yang sesungguhnya tapi ia yang terlupa. Mereka setiap saat berada samping kita. Tapi kita seakan tertutup matanya ibarat pepatah mengatakan gajah di pelupuk mata tak telihat.

Moga di hari pahlawan ini kita sebagai anak ingat bahwa orang tua kita merupakan pahlawan utama yang harus diperingati setiap hari.

Oleh : Al Firdaus. Guru SD Tahfiz Jabal Rahmah dan SD Islam Cikal Cendekia Tangerang

News Feed