by

Santri Adalah Sang Pengemban Tiga Misi Kepahlawanan

Opiniindonesia.com – “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran padanya: “Hai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar” (QS Luqman: 13)

Mempunyai anak yang sholeh adalah dambaan setiap pribadi muslim. Kita patut berbangga dan bahagia ketika melihat anak kita rajin ke masjid, membantu orang tua, rajin belajar, dan amalan baik lainya. Namun untuk memperoleh itu semua harus ada usaha yang serius dari orang tua.

Orang tua adalah figur awal bagi anaknya, maka kebiasaan orang tua sedikit banyak mempengaruhi perilaku kebiasaan anak yang dalam pepatah bahasa Indonesia dikenal dengan “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonya”.

Adalah sesuatu yang lucu apabila orang tua menyuruh si anak untuk rajin sholat subuh, sementara dia sendiri sering bangun kesiangan.

Bila kita telusuri sejarah para ulama maka kita dapati ada garis keturunan yang kesekian, adalah orang-orang sholeh yang senantiasa menjaga aturan-aturan Allah, entah bapak, kakek, atau buyutnya.

Contohnya Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, imam pendiri Madzhab Hanafi, yang dikenal dengan kecerdasannya dalam berargumentasi. Bapak Abu Hanifah yaitu Tsabit adalah orang sholeh yang terkenal sangat menjaga perutnya dari kemasukkan makanan syubhat, apalagi yang haram. Untuk menghalalkan separuh buah apel yang terlanjur masuk ke perutnya tanpa sengaja, beliau rela menempuh perjalanan jauh untuk menemui pemilik kebun apel tersebut.

Seorang pakar pendidikan Islam, Prof. Dr. Ahmad Syalabi dalam salah satu bukunya menyatakan bahwa anak-anak harus diberi kesibukan-kesibukan di sekolah dasar, untuk mempelajari Al-Qur’an dan cerita-cerita tentang orang yang baik dan hal ihwal mereka, supaya tertanam dalam jiwanya kecintaan kepada orang sholeh.

Dalam buku Kiat Mendidik Anak Di Lingkungan Jahiliyah, dijelaskan pentingnya mengarahkan anak kepada ilmu yang bermanfaat, yang mengambil hujjah dari dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena dengan keduanya kita mengetahui larangan dan perintah, yang dengan hal itu kita mengetahui jalam menuju surga-Nya, sebagaimana sabda Nabi SAW “sesungguhnya tiada suatu yang bisa mendekatkan kalian kepada surga kecuali aku telah memerintahkan kalian dengannya, dan tiada suatu yang bisa mendekatkan kalian kepada neraka, kecuali aku telah melarang kalian dari padanya”.

Dalam surat Luqman ayat 13 sampai 19 terdapat nasehat Luqmanul Hakim kepada anaknya. Isi nasehat ini menjadi karakteristik kesolehan seseorang. Nasehat itu berisi: menjauhi perbuatan syirik, berbuat baik kepada kedua orang tua, menjahui perbuatan yang tidak baik walaupun tiada orang yang mengetahuinya, mendirikan sholat, mengajak manusia pada kebaikan, menjauhi kemungkaran, bersabar menghadapi cobaan, tidak sombong, menjauhi perkara yang buruk dalam masyarakat, bertutur sopan, dan menghormati orang lain.

Ketika karakteristik tersebut melekat pada seseorang semenjak masa belia, maka insya Allah ia mampu mengemban misi-misi kepahlawanan agama.

Kholifah Umar bin Khottob radhiyallahu anhu pernah mengutus Rib’i bin Amir radhiyallahu anhu untuk berdakwah kepada kaum penyembah api (majusi) di Persia, dengan membawa tiga misi kepahlawanan mulia.

Ketiga misi mulia tersebut adalah: membebaskan manusia dari penghambaan sesama manusia untuk hanya menghamba kepada Allah SWT semata, membebaskan manusia dari sempitnya dunia menuju ke lapangnya dunia dan akhirat, dan membebaskan manusia dari lalimnya agama-agama yang ada menuju ke keadilan Islam.

Tiga misi kepahlawanan tersebut teremban dalam tiga cabang ilmu Islam yang diajarkan di hampir setiap pesantren, ketiganya yaitu aqidah, ibadah, dan akhlak.

Maka setiap santri pada hakekatnya adalah sang pengemban tiga misi kepahlawanan ini. Oleh karena itu jangan ragu para orang tua untuk memesantrenka anaknya. Karena tidak mungkin orang itu dianggap hina apabila yang diembannya adalah sesuatu yang mulia.

Terbukti hentakkan pidato bung Tomo untuk membakar semangat juang rakyat Indonesia adalah pekikan Allahu Akbar. Sebuah kalimat yang sering dilafadzkan seorang santri. Selamat Hari Pahlawan 2020.

Oleh : Aproni Samsuri, Guru Pesantren Daarul Fath.

News Feed