by

Humor Hoax : Kritik Sosial kepada Penguasa

-D. JUPRIONO-969 views

Terdapat tiga tradisi teori tentang humor: superiority theory, relief tension theory, dan incongruity theory (Martin, 2014).

Menurut Teori Superioritas (Superiority Theory), humor seringkali dimanfaatkan untuk mentertawakan orang lain. Humor yang mengekspresikan superioritas merupakan sebuah mekanisme kontrol atau bentuk resistensi.

Dalam pandangan Relief Tension Theory, humor akan mengurangi ketegangan atau stress. Humor berfungsi relief, yang menjalankan negosiasi atau mediasi melalui pengurangan ketegangan dan meningkatkan kepercayaan di antara pihak-pihak yang berinteraksi. Seperti mimpi, humor memungkinkan obsesi terlarang muncul ke permukaan.

Dalam relief humor terdapat dua sifat: pertama, menyembuhkan dengan membiarkan ketegangan dan energi dilepaskan; kedua, melancarkan perlawanan samar terselubung, sebuah representasi pembangkangan terhadap penguasa, dan pembebasan dari sebuah tekanan.

Incongruity Theory memandang humor hadir saat ada sesuatu yang tidak lazim, irasional, paradoks, tidak koheren, keliru, tidak konsisten dengan logika yang digunakan dalam mempersespsi sebuah peristiwa. Humor didasarkan pada aspek kongnisi seseorang, karena melibatkan persepsi individual terhadap peristiwa, orang, atau simbol.

Berdasarkan ketiga teori utama tersebut, pesan-pesan yang mungkin ditangkap dari berita hoax dapat  diklasifikasikan ke dalam empat kelompok. Pertama, pesan-pesan verbal-agresif yang merendahkan dan mengecilkan pihak lain.

Kedua, pesan-pesan jenaka self-enhancing, yang menertawakan kebodohan diri sendiri. Ketiga, pesan-pesan afiliatif, yang menyatukan pihak-pihak yang berbeda-beda dan tengah memperuncing konflik). Keempat, pesan-pesan self-defeating, yang melakukan perlawanan balik terhadap bullying verbal-agresif.

News Feed