by

Humor Hoax : Kritik Sosial kepada Penguasa

-D. JUPRIONO-965 views

Lalu Anies mengeluarkan dompetnya dan mengambil lembaran-lembaran pecahan 100 ribuan, kemudian menyerahkan kepada pria itu sambil berkata: “Ini gaji lo 3 bulan ke depan, dan ini 6 juta pesangon lo… cepat lo pergi dari sini dan … awass lo jangan balik lagi! Elo gue pecat!!!”

Dengan gugup dan setengah takut pria itu segera meninggalkan tempat itu tanpa banyak bicara.

Lalu dengan muka kecut, sedikit seram, Anies melangkah mendekati pegawai yang sejak tadi menyaksikan adegan tersebut dan berkata: “Itulah nasib karyawan yang sukanya santai-santai. Di Pemda DKI ini gak ada toleransi, gua berentiin mulai sekarang juga, tidak ada tawar-menawar!!! Emang Pemda DKI ini milik nenek moyang lo?!! Semua harus kerja. Gua gak mau dengar alasan elu semua ….!”

Kemudian, “Ooh yaa … Elu semua tau gak, pemuda brengsek tadi kerja di bagian mana? Tolong cepat jelaskan…!!” tanyanya.

Suasana jadi hening, sampai akhirnya salah seorang staf menjawab dengan sangat ketakutan: “Dia gak kerja di sini, Pak. Dia Mukidi, tukang bubur yang lagi nunggu mangkoknya …”

Di manakah letak pesan-pesan humor-agresifnya? Humor berita hoax (1) dapat dilihat dari dua sisi; keduanya sama-sama agresif. Pertama, dari sisi Anies sebagai komunikator. Semua pernyataannya dapat dirasakan sebagai sebuah bentuk komunikasi yang mengirimkan pesan-pesan verbal agresif yang merendahkan orang lain (pemuda tukang bubur). Kedua, dari sisi pembaca humor berita hoax sebagai komunikan. Jelas sekali pembaca akan senyum, geli, dan memandang Anies sebagai pihak yang harus “disyukurin” (rasain lu…!). Anies menjadi objek bulan-bulanan humor para pembaca berita hoax.

Humor ini bisa saja dimodifikasi sesuai kebutuhan: siapa yang ingin di-bully.. Cobalah, nama Anies di atas diganti dengan Ridwan Kamil, Khofifah, Ahok, Ganjar Pranowo, … dst.

News Feed