by

Retorika Perlawanan Massa : Dari Pelesetan Hingga Ujaran Kebencian

-D. JUPRIONO-598 views

Contoh lainnya masih banyak. UUD: ujung-ujungnya duit; SDM: selamatkan diri masing-masing; semua dari Makasar (zaman Presiden Habibie). STNK: sudah tua namun kejam (tertuju pada Presiden Suharto). Korpri: koruptor pribumi. Bakorstanas: bahaya korupsi sudah taraf nasional.

Retorika perlawanan di bawah permukaan juga dimeriahkan oleh pelesetan pameo historis-populis, khususnya yang dihubung-hubungkan dengan Soekarno. Misalnya: “Soekamo penyambung lidah rakyat, Soeharto penyambung lidah keluarga, Habibie penyambung lidah Soeharto“.

Ketika ingat santiaji Bung Karno “Kutitipkan negara ini padamu“, mahasiswa pun menciptakannya untuk Pak Harto: “Kutitipkan utang ini padamu“.

Pelesetan paling heroic, bahkan sampai sekarang, tentu saja Sumpah Mahasiswa yang dicipta untuk menggugat kembali keampuhan spirit Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, untuk konteks historiopolitis yang berbeda. Begini: “Kami mahasiswa-mahasiswi Indonesia mengaku: satu, bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan; dua, berbahasa satu, bangsa yang gandrung keadilan; tiga, berbahasa satu, bahasa kebenaran”. Pelesetan ini mampu memicu spirit dan nyali mahasiswa di seluruh pelosok tanah air untuk serentak bergerak.

Dibawah rezim Suharto dan di masa awal Reformasi ABRI (sekarang TNI) pun menjadi sasaran pelesetan sebagai ekspresi kemarahan massa terhadap kekejaman mesin kekuasaan Orde Baru itu. Mengkritik terus terang jelas berisiko tinggi: suatu tindakan martiris, tetapi sedikit konyol, bagai membenturkan kepala ke tembok. Maka, gerilya wacana terselubung di bawah permukaan menjadi alternatif paling rasional. Sikap sinisme tampak dalam syair lagu “Lihat kebunku penuh dengan bunga …” (ciptaan Saridjah Niung, atau lebih popular Ibu Sud), yang dipelesetkan begini: “Lihat Cendana, penuh dengan ABRI/ Ada tentara dan ada polisi/ Setiap hari mahasiswa aksi / Tuntut Soeharto, harus diadili“.

Fenomena sosial militer lain yang layak dicatat adalah bahwa hampir dalam setiap acara, ABRI selalu “berdangdut ria”; bahkan melahirkan apa yang disebut “joget komando”, “joget terpimpin”, yang tidak saja di lingkungan asrama barak militer, tetapi juga sudah merembet ke karyawan Depdagri.

Mengapa ABRI suka dangdut? Kata para aktivis, “Karena kepanjangan ABRI yang sesungguhnya adalah Anak Buahnya Rhoma Irama.” Tentu ini sikap minor terhadap institusi militer tersebut.

News Feed