by

Retorika Perlawanan Massa : Dari Pelesetan Hingga Ujaran Kebencian

-D. JUPRIONO-602 views

penuh serdadu-serdadu jelek dan menakutkan

Aku berjalan menempuh matahari

menyusuri jalan sejarah pembangunan

yang kotor dan penuh penipuan

… Astaga, tahi kerbo apa ini!

Seruan Karl Marx “Buruh seluruh dunia, bersatulah!”, yang menggemetarkan Kapitalisme itu, menginspirasi munculnya seruan praksis ‘konsolidasi gerakan mahasiswa: “Mahasiswa seluruh Indonesia, bergeraklah!”. Yang menarik di sini adalah pemilihan idiom wacana kiri sebagai media ekspresi unjuk rasa. Seperti disadari oleh semua elemen bangsa ini, apa pun yang berbau kiri oleh Orde Baru dinyatakan sebagai musuh bersama (common enemy) yang harus dibenci, dimusuhi, dan dilenyapkan.

Kekerasan simbolik berupa penggencaran stigma “kiri” dipukul rata sama dengan ateisme, komunisme, gerombolan perusuh, GPK, OTB, “setan gundul”, mewarnai sepanjang rezim Orde Baru bercokol. Bahkan, hegemoni negara ini merasuk ke setiap daya hayat dan daya tafsir masyarakat luas terhadap apa pun yang berbau kiri: “kiri itu apa, kiri itu siapa saja, dan kiri itu harus diapakan”. Sementara, di seberang lain, kelompok intelektual kritis independen (tidak semua!) mencoba melawan hegemoni dan stigmatisasi sesat ini dengan strategi yang lebih kultural, misalnya diskusi, penulisan buku, publikasi jurnal, termasuk kasak-kusuk, diskusi gelap, rumor di lingkungan terbatas kampus. Dengan demikian, telah terjadi perang simbolis yang berupa penggambaran serba positif tentang kelompok sendiri dan penggambaran selalu negatif mengenai kelompok lawan.

Sebagai katarsis dari ketertindasan, anekdot parodi satiris pun tumbuh subur di bawah permukaan wacana pada zaman Orde Baru Soeharto. Tentu saja, anekdot ini menebar dari mulut ke mulut, tanpa dapat dikontrol intel, sepiawai apa pun intel itu. Sasarannya aparat birokrasi dan militer. Contohnya berikut: Saat ditarik tarif tol, awal 1998, Jenderal R. Hartono menggerutu, “Sudah lama merdeka kok masih ditarik pajak. Ini ‘kan bukan zaman Siti Nurbaya lagi.” Sopirnya nyeletuk kalem, “Memang bukan Siti Nurbaya lagi, Pak. Sekarang kan zamannya Siti Hardiati Rukmana …”. Saat itu rumor yang berkembang di masyarakat dan kalangan jurnalis adalah hubungan spesial antara dua figur publik itu. Membicarakan secara terbuka tentang hal itu sama dengan bunuh diri. Maka, merebaklah kabar burung begitu.

News Feed