by

Retorika Perlawanan Massa : Dari Pelesetan Hingga Ujaran Kebencian

-D. JUPRIONO-603 views

Contoh lainnya adalah anekdot kesialan dokter gigi alumni luar negeri yang buka praktik di Indonesia. Demikian: Dokter gigi lulusan universitas jempolan di Jerman begitu lulus, pulang ke tanah air tercinta bernama Indonesia di bawah kekuasaan rezim Orde Baru. Dia buka praktik. Tetapi, benar-benar sial, dia gagal. Meskipun banyak orang Indonesia menderita sakit gigi, mustahil prognosis dan diagnosis serta operasi dilakukan karena tidak satu pun yang berani buka mulut.

Namanya juga anekdot. Benar-salah bukan soal utama. Yang lebih penting adalah spirit kisah ini, yaitu demokrasi di Indonesia yang harus diperjuangkan oleh segenap elemen anak bangsa. Soal pokok demokrasi di negeri ini adalah kemerdekaan berpikir, berbicara, berekspresi, mengkritik, membela diri ketika dituduh tanpa bukti, melawan ketika ditindas sewenang-wenang. Saat Orde Baru, kemerdekaan berbicara adalah mimpi di siang bolong. Justru karena itu, ia menjadi obsesi yang terus mengkristal, menggumpal, dan kemudian muncul menerjang.

Retorika Zaman Jokowi: Fitnah, Hoax, Ujaran Kebencian

Di bawah bayang-bayang jargon resmi berkekuatan kekerasan simbolis (Bourdieu, 1990) macam tuduhan “anti-Pancasila”, “GPK”, “merongrong kewibawaan pemerintah”, “makar-subversif’, “mengganggu ketertiban”, dan penculikan oleh aparat Orde Baru, ternyata kelompok kritis mahasiswa dan kelompok gerakan prodemokrasi lainnya justru kreatif. Segala kandungan potensial fungsi bahasa didayagunakan secara optimal untuk menyiasati represi dan intimidasi penguasa. Maka, wacana bahasa Indonesia di bawah permukaan penuh warna, tidak terjebak pada monoretorika. Keanekaragaman retorika ini merupakan cerminan kesadaran kelompok prodemokrasi saat itu bahwa wacana sarkasme adalah praksis kekerasan–setidaknya kekerasan simbolis (Bourdieu, 1990)–dan, karenanya, bukan pilihan terbaik.

Peralihan Orde Baru ke Orde Reformasi juga diikuti oleh perubahan retorika perlawanan. Apalagi Orde Reformasi di bawah Jokowi! Berkebalikan 180° dengan Orde Baru yang penuh selubung dan eufemisme, Orde Reformasi di masa Presiden Jokowi memproduksi retorika perlawanan terang-terangan yang sarkasme liar berlumur fitnah, caci maki, hoax, ujaran kebencian, seperti yang marak saat ini.

Tentu saja, dahulu pun di masa akhir Orde Baru ada wacana vulgar, seperti sekarang ini. Tuntutan “Hapus Dwifungsi ABRI!”, “Turunkan harga!”, “Adili koruptor!”, adalah retorika klasik dalam dinamika gerakan prodemokrasi. Bedanya, pertama, dahulu gaya sarkasme kurang dominan ketimbang eufemisme, sementara di bawah permukaan didominasi oleh retorika anekdot dan pelesetan. Kedua, sebebas-bebas retorika perlawanan di akhir Orde Baru toh tidak ada fitnah, caci maki, dan hoax yang ditujukan kepada Presiden Suharto.

Sungguh, sebenarnya hingga sekarang pun saya sulit membayangkan, dan tidak tahu mengapa dengan gampangnya banjir fitnah terjadi pada Presiden Jokowi. Mengapa sekelompok massa tanpa merasa berdosa menebar fitnah keji macam “Jokowi anak PKI”, “Jokowi anak pungut”, “Jokowi tersangkut komunis”, “Jokowi keturunan China”, “Jokowi dibastis di Singapura”, “Jokowi nikah di gereja” ….dan entah apa lagi! Belum lagi ujaran kebencian yang sangat melecehkan Presiden seperti “Presiden goblog”, “Penggal leher Jokowi”, “Jokowi plonga-plongo” …

News Feed