Hizbut Tahrir Indonesia Dipandang dari Berbagai Perspektif

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 15 September 2020 - 21:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DR M. Kapitra Ampera SH MH, Ketua Umum Gerakan Guyub Nasional Indonesia (GGNI). /Instagram/@m.kapitraampera/

DR M. Kapitra Ampera SH MH, Ketua Umum Gerakan Guyub Nasional Indonesia (GGNI). /Instagram/@m.kapitraampera/

Opiniindonesia.com – Rahmatan Lil’alamin, agama yang lembut dan berkasih sayang pada seluruh manusia/semesta, begitulah Islam disebut.

Islam mengajarkan penganutnya untuk beinteraksi dengan orang lain termasuk dengan non muslim dengan cara toleransi dan menghargai penganut agama lain sepanjang tidak keluar dari jalur aturan yang ditetapkan oleh Allah SWT.

Perbedaan keyakinan dan kepercayaan merupakan suatu takdir Allah, sebagai ujian yang diturunkan kepada manusia sebagaimana Firman Allah pada surat Al-Maidah ayat 48.

Keberagaman agama dalam suatu komunitas merupakan given yang Allah tetapkan, dan dalam surat AL-Mumtahanah ayat 8 dan 9 Allah memerintahkan  manusia untuk berbuat baik dan berlaku Adil kepada non muslim, kecuali pada mereka yang memerangi atau mengusir kaum muslimin.

Rasulullah pun mencontohkan dalam Interaksinya dengan seseorang Yahudi di Madinah, ketika seorang Yahudi dari Bani Nadhir melanggar kesepakatan untuk tidak menyerang, maka orang tersebut pergi meninggalkan kota Madinah, dan mereka tidak dihukum karena melanggar kesepakatan.

Rasulullah bahkan mencontohkan bagaimana berdakwah dan menyebarkan agama Islam dengan lembut. Sehingga, pengamalan Islam dengan cara yang radikal dan intoleran, bukanlah cara-cara Islam yang penuh hikmah sebagaimana yang diatur oleh Allah dan dipandu oleh Rasulullah.

Dakwah yang dilakukan kelompok Hizbut Tahrir yang berpijak atas keharusan mengembalikan khilafah Islamiyah, dengan mengeluarkan ijtihad tentang politik yang kontroversial dan tidak sedikit yang bertentangan dengan aturan negara sebagai suatu konsensus masyarakat di berbagai negara di dunia.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru