Papua, Damailah Saudaraku, Maafkanlah Mereka

- Pewarta

Selasa, 20 Agustus 2019 - 09:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Menyebut Papua, kepala saya penuh dengan para legenda di dunia olahraga. Timo Kapissa, Hengky Rumere, Metuduaramuri, Yonas Sawor, Rully Neere, Stevanus Sirey dan sederet nama lainnya dari lapangan hijau. Benny Maniani dan Seppi Karubaba dari ring tinju.

Tidak berhenti di situ. Kepala saya juga dipenuhi dengan bayangan Yulius Uwe, raksasa yang menjadi manusia super. Tiga kali Sea Games 1987, 89, 91 menjuarai dasa lomba. Begitu juga Alex Kapissa yang larinya seperti angin, selain sebagai sprinter, ia juga pemain sepakbola dari Perseman Manokwari. Dan yang terpenting : Sungguh, mereka semua pasti bukan monyet! Seperti kata yang sempat terlontar terkait kasus yang kini sedang ramai dibicarakan.

Mereka adalah para sahabat saya. Mereka semua sudah membela Indonesia berulang kali. Mereka dan segenap keluarganya adalah bagian dari kehidupan dunia olahraga kita, olahraga Indonesia. Istimewanya, mereka semua selalu tersenyum dan sangat ramah. Gigi-gigi mereka begitu putih dan berjajar rapih.

Sakit rasanya jika ada orang, siapa pun dia, menyebut mereka secara kasar. Tolong catat : Mereka adalah saudara-saudara kita dari Papua. Mereka sama dengan kita, bahkan untuk urusan bela negara, mereka sangat mungkin lebih banyak ketimbang kita. Utamanya terkait bidang olahraga.

Jadi, terlalu gila jika mereka dilecehkan. Terlalu gila jika ada yang menghinanya. Terlalu gila jika ada yang menyepelekannya. Terlalu gila jika ada rasisme yang dialamatkan ke arah mereka. Terlalu gila jika ada yang bermain dari isu ini.

Yang memprihatinkan, mengapa kok Jawa Timur yang harus jadi penyebabnya ? Daerah yang selama ini kita kenal sebagai basis para pahlawan. Daerah yang sepanjang sejarah kita kenal banyak melahirkan tokoh-tokoh besar? Tempat tumbuh kembangnya jiwa patriot kebangsaan. Ingatlah semangat 10 November. Mengapa ? Duh !!!

Dari hati yang paling dalam, saya berharap ada sikap jujur pada para pelaku. Jangan korbankan saudara-saudara Jawa Timur lainnya. Segeralah meminta maaf.

Begitu juga, saudara-saudara kita di tanah Papua. Saya paham dan ikut merasa sakit, tapi berhentilah. Maafkanlah mereka saudaraku. Kami semua adalah saudaramu. Kita punya ibu yang sama, ibu Pertiwi. Tanggalkanlah kemarahanmu…

Mari bersama kita kendalikan emosi.

Semoga damai kembali bersenandung.

Aamiin.

Oleh: M. Nigara. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Hainan: Etalase Kebijakan Pintu Terbuka Tiongkok

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:45 WIB