Opiniindonesia.com – Pada akhirnya nanti catatan sejarah akan tergurat, apa saja yang telah kita lakukan untuk rakyat. Bagi seorang jurnalis ia harus memberi kesaksian yang benar dan untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan orang banyak.
Tak bisa mementingkan keperluan serta kebutuhannya sendiri. Apalagi cuma sekedar untuk mencari banda dan harta agar bisa kaya raya dan hidup bermewah-mewah.
Kaya itu perlu, tapi tak pula sekedar mencari harta, tapi kaya hati, kaya pikiran, kaya teman dan kaya berbuat baik untuk semua makhluk di muka bumi. Termasuk berbuat baik buat alam dan lingkungan. Sebab keserakahan pun bisa dilakukan pada alam yang tak boleh kita nikmati sendiri.
Apalagi sikap serakah itu berada pada habitat tahta dan kekuasaan. Seperti sikap yang selalu hendak memaksakan keinginan sendiri. Sebab hakikat kekuasaan itu adalah amanah, kewajiban dari keharusan yang patut dijalankan, tidak kecuali untuk negeri yang menganut sistem kerajaan sekalipun.
Itulah hakikatnya khalifatullah sayidina penatagama ing ngalaga yang pernah ada di negeri kita ini sebelum menjadi republik. Dan hakikat republik pun kekuasaan dan kehendak itu harus dan hanya untuk rakyat. Bukan untuk dirinya sebagai penguasa. Sebab kekuasaan itu merupakan amanah dari daulat rakyat.
Maka itu kedaulatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan dijadikan salah satu sila dari falsafah bangsa Infonesia untuk kemudian jadi penuntun menuju masyakat yang adil dan makmur.
Karenanya bagi mereka yang bisa disebut mewakili kepentingan orang banyak — eksekutif, legislatif dan yudikatif — wajib dan harus taat menjalankan amanah rakyat. Dan atas dasar itu pula mereka disumpah agar bida menduduki jabatan dengan arif dan bijaksana sesuai dengan tuntunan agama kepercayaannya masing-masing.
Jadi pantaslah bagi mereka yang khianat itu kelak menjadi terkutuk. Mereka patut menerima azab, apalagi sampai mencederai hati rakyat yang harus dan patut mereka dilindungi. Rakyat patut diayomi, dan rakyat wajib dilayani dengan sebaik-baik mungkin.
Bagi rakyat yang teraniaya, dizolimi, dikhianati atau sekedar dikadali pun, mereka pasti akan mendapat azab sesuai dengan sikap dan niat dari perbuatan buruknya itu.
Demikianlah keyakinan kita sebagai penganut agama yang baik dan benar tidak cuma sekedar formalitas belaka.
Apapun agama yang kita anut — kecuali komunis yang katanya tak percaya pada keberadaannya — Tuhan yang membuat bumi dan langit serta seisinya, termasuk kita sebagai manusia yang berakal budi dan diperkaya pula dianugrahi cita rasa dan perasaan serta insting kemanusiaan yang tak rakus, apalagi kemaruk.
Seperti tak paham bila kelak anak cucu kita juga yang akan mewarisi semua apa yang pernah kita miliki serta semua yang pernah kita lakukan. Meski azabnya mungkin saja dalam bentuk yang lain.
Hingga begitulah ujud kesetiaan dari kesaksian sejarah mencatat semua apa yang telah diperbuat manusia oleh di bumi. Tak kecuali keculasan siapa saja manusianya di negeri kita ini.
Akibatnya kita sebagai jelata — terkadang — seperti tak bisa berbuat apa-apa — kecuali berdo’a, pasrah seperti ummat beragama yang percaya dan yakin pada Yang Maha Adil memang cuma ada di langit.
Demikian kata salah seorang kawan penyair sufi yang pernah melenguhkan, jangan pernah mencari keadilan dan kebijakan yang sempurna di bumi, sebab semua itu hanya ada di langit, ujarnya usai membacakan karyanya yang sufistik itu.
Oleh : Jacob Ereste, Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Federasi Bank, Keuangan dan Niaga (F.BKN) K.SBSI.





