Jangan Disepelekan, Artwork Bisa Melestarikan Budaya Bangsa

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 30 Oktober 2020 - 11:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lukisan perlu medium tembok. Perlu rasa estetik agar lebih bermakna. (Foto: muraldowntown.blogspot.com)

Lukisan perlu medium tembok. Perlu rasa estetik agar lebih bermakna. (Foto: muraldowntown.blogspot.com)

Opiniindonesia.com – Bila kita berlibur ke suatu destinasi, salah satu kegiatan yang menghasikan adalah berburu artwork. Entah untuk dipajang dirumah atau sebagai buah tangan utk sahabat atau sanak keluarga.

Bentuknya tidak terlalu besar, agar mudah dibawa. Antara artwork dan pernak pernik ada persamaan dan perbedaan. Sama sama sebagai pajangan penghias ruang. Bisa dua dimensi atau tiga dimensi.

Dua dimensi berupa lukisan, yang tiga dimensi berupa patung, dll. Bedanya artwork lebih bernilai seni. Oleh karenanya bisa dijadikan benda investasi.

Seni memajang

Lukisan perlu medium tembok. Perlu rasa estetik agar lebih bermakna. Jangan memasang lukisan serem ( calonarang) diruang keluarga.

Display patung memerlukan ceruk, tatakan dan pencahayaan. Dengan kemajuan tehnologi fotografi, jepretan foto bernilai art dan ekonomis.

Ekspresi diri

Dari pajangan yang ada diruang tamu seseorang, terbaca karakter, gaya hidup, tujuan hidup seseorang.

Bagi yg awam dapat menghandle Artwork design utk mempercantik ruang. Entah dikantor maupun dirumah. Kesalahan mendekor ruang dapat mengurangi nilai suatu karya seni.

Merawat memori

Tempat yang indah mempesona akan menciptakan rasa bahagia. Rasa bahagia dapat meningkatkan imunitas tubuh.

Apalagi ditengah pandemi Covid 19 saat ini. Seorang sosialita akan suka ruang tamu dan kantor yg wah. Seorang cendikiawan suka Home Library. Semua suka keindahan yang menyenangka untuk dikenang.

Kenangan inilah yang dikelola menjadi bisnis pariwisata. Kalau hanya pemandangan indah, dimana mana juga ada. Kalau yang disuguhkan kenangan melalui hospiality, healthy, security, safety, wisatawan akan datang berkali kali.

Melestarikan budaya

Pengelolaan emosi para wisatawan perlu. Yang suka kuliner siapkan resto yang unik, beda dengan yang sehari hari ia nikmati.

Bagi yang berlibur utk beristirahat, keluar dari rutinitas keseharian, sediakan akomodasi. Bagi yang berwisata petualangan. Bagi yang sdh berumur siapkan rumah sakit yang sesuai standar. Dan seterusnya.

Setiap wisatawan punya selera yang berbeda. Seperti pepatah Tiongkok bilang: Kalau gak bisa senyum jangan berdagang. Berilah mawar kepada konsumen.

Artinya servisis yang utama dan pertama. Jangan sampai wisatawan asing lebih mencintai budaya kita. Mari kita beli dan koleksi hasil karya artwork anak bangsa sebagai upaya turut melestarikan apa yang kita miliki.

Oleh : Wayan Sudarmadja, Pemerhati Pariwisata.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru