Pak Prabowo, Anda Pasti Tahu Cara Menghadapi Perampok

- Pewarta

Jumat, 3 Mei 2019 - 13:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Alhamdulilah, Allah SWT membekali hamba-Nya yang beriman dengan manual (panduan) tentang bagaimana cara menghadapi peminta-minta (pengemis) dan bagaimana pula menghadapi perampok. Tidak sama cara melayani mereka. Kontras perbedaannya.

Yang datang meminta-minta kepada Anda, tidak boleh Anda hardik. Tidak boleh berkata kasar jika Anda tidak bisa memberikan sesuatu. Perintah ini ada di surah Adh-Dhuha (surah 93), ayat 10, “Wa amma assaaila falaa tanhar.” Lebih-kurang artinya, “Dan kepada orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghadiknya.” Panduan lain ada di ayat ke-263 surah al-Baqarah. Yaitu, “Qaulun ma’ruufun wa maghfiratun khairun min shodaqatin yatba’uha azaa.” Yang artinya, “Kata-kata yang baik dan kemaafan itu lebih bagus dari sedekah yang diikuti repetan.”

Begitu cara menghadapi peminta-minta. Jangan dimarahi, jangan pula direpeti. Nah, bagaimana kalau Anda didatangi gerombolan perampok?

Mempertahankan hak milik dari perampokan, perampasan, atau pencurian, wajib hukumnya. Mati mempertahankan hak milik adalah mati syahid. Begitu juga mempertahankan kehormatan, agama, dan keluarga. Semuanya mati syahid kalau gugur dalam mempertahankan dan membela empat hal itu. Yaitu: harta, kehormatan, agama dan keluarga.

Dalam satu hadits shohih, Rasulullah s.a.w. berkata, “Barang siapa yang gugur karena mempertahankan hartanya, ia syahid. Barang siapa yang gugur karena mempertahankan darahnya (kehormatannya), ia syahid. Barang siapa yang gugur karena mempertahankan agamanya, ia syahid. Barang siapa yang gugur karena membela keluarganya, ia syahid.” (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan at-Tirmidzi).

Baik! Apa hubungannya dengan Prabowo Subianto (PS) yang disebutkan di dalam judul tulisan ini?

Sederhana saja. Beliau saat ini sedang menghadapi perampokan. Ada gerombolan yang mau merampok kemenangan Pak Prabowo di dalam pilpres 2019. Kemenangan ini adalah ‘harta’ beliau. Karena itu, Pak PS wajib mempertahankannya. Apalagi, ‘harta’ berupa kemenangan itu adalah titipan mayoritas rakyat Indonesia. Semakin keraslah kewajiban itu. Beliau tidak bisa main-main dengan titipan rakyat.

Rakyat menitipkan ‘harta’ berupa kemenangan pilpres itu kepada Pak Prabowo karena mereka yakin mantan jenderal Kopassus itu mampu mempertahankan, memelihara, dan mengaplikasikannya. Rakyat percaya bahwa Pak PS tahu cara menghadapi gerombolan perampok yang sangat ingin merampas kemenangan pilpres tsb.

Pak Prabowo sangat beruntung. Beruntung karena seluruh rakyat yang menitipkan kemenangan itu siap ikut mempertahankannya kalau ada yang mau mengambil paksa ‘harta’ yang sangat berharga itu. Kita bisa saksikan berbagai komponen rakyat telah menyatakan tekad kuat mereka untuk menghadapi gerombolan perampok.

Terkecuali, entahlah, kalau para perampok datang baik-baik untuk meminta agar kemenangan pilpres itu disedekahkan kepada mereka. Ini lain cerita. Tentu kita kembalikan saja ke panduan dalam menghadapi peminta-minta. Pastilah sangat repot kalau ada yang datang kepada Pak Prabowo untuk meminta kekuasaan, mengemis kemenangan.

Panduannya sangat jelas. Kalau rela dan sesuai dengan situasi dan kondisi, bisa saja diberikan. Tapi, kalau si peminta-minta sudah diketahui rekam jejaknya yang sangat kotor, tak mungkinlah permintaan mereka dipenuhi. Sebagai analogi saja, ada yang meminta uang kepada Anda dan Anda tahu dia selalu menggunakannya untuk membeli narkoba atau minuman keras. Apakah pengemis atau peminta-minta seperti ini akan dilayani?

Tak mungkinlah dikabulkan. Hanya saja, Pak Prabowo hendaklah menolaknya dengan baik. Tolaklah para peminta-minta itu dengan halus. Jangan kasar.

Ulama tafsir, Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, menginterpretasikan ayat 10 surah Adh-Dhuha di atas seperti berikut ini. “Jangan sampai terlontar darimu perkataan yang meniscayakan penolakan terhadap hasrat si peminta-minta dengan dibarengi hardikan dan perangai kasar. Akan tetapi, berilah apa yang engkau miliki atau tolaklah secara baik dan santun.”

“Tolaklah secara baik dan santun,” kata as-Sa’di. Inilah kata kunci dalam menghadapi pengemis yang ingin memiliki kemanangan Pak Prabowo. Tak mungkin beliau serahkan kemenangan pilpres itu karena inilah satu-satunya ‘harta’ yang ada pada beliau untuk mengadilmakmurkan seluruh rakyat Indonesia. Untuk menyelamatkan Indonesia dari para koruptor dan manipulator.

Sekali lagi, kalau ada gerombolan yang datang mau merampok kemenangan pilpres beliau, tentulah Pak Prabowo lebih tahu cara menghadapinya. Wallahu a’lam.

Oleh : Asyari Usman, adalah Penulis wartawan senior.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru