Pak Prabowo, Hati-Hati Dengan Luhut Panjaitan

- Pewarta

Rabu, 24 April 2019 - 12:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Luhut Panjaitan, pemegang kekuasaan paling besar di pemerintahan Jokowi, sangat ingin bertemu dengan ‘presiden pilihan rakyat’ –Prabowo Subianto (PS). Dengan menggunakan kacamata sangka baik (husnuz-zon), tentu ajakan Luhut itu bukan problem.

Sekali lagi, keinginan untuk bertemu atau ajakan untuk bertemu bukan masalah. Yang menjadi masalah ialah kalau Pak Prabowo memenuhi ajakan itu. Andaikata Pak PS melayani ajakan Pak Menko, kita semua ingin berpesan agar Pak Prabowo berhati-hati dengan Luhut.

Tanpa masukan dari siapa pun, pastilah Pak Prabowo tahu persis siapa Luhut Panjaitan. Mereka sudah kenal sejak lama. Sama-sama berdinas di Kopassus. Pernah juga berbisnis bareng, dlsb.

Tetapi, tak berarti keduanya sama dalam kepribadian. Tak berarti memiliki reputasi yang sama juga. Dan yang paling jelas, Pak Prabowo punya integritas. Tidak pernah terdengar menilap uang negara. Tak pernah pula mem-backing orang-orang berduit yang ingi mendapatkan sesuatu dengan jalan pintas.

Luhut, kata para pengamat, adalah orang yang pragmatis. Dalam bahasa lain, Luhut itu lebih suka berpikir keras tentang bagaimana cara agar tujuan tercapai. Dia tidak perduli dengan cara apa tujuan itu dicapai. Yang penting, tujuan tercapai. Apa saja cara, tidak masalah bagi Luhut.

Itu pula sebabnya Pak Jokowi senang memberikan kekuasaan yang sangat besar kepada Luhut. Jokowi yakin Luhut akan ‘get things done’. Bisa mewujudkan kehendak Jokowi (boleh jadi juga kehendak Luhut sendiri). Jokowi juga tidak menghiraukan cara untuk mencapai tujuan. Termasuklah tujuan supaya dinyatakan menang di pilpres 2019 ini.

Bagi Anda, mencurangi hasil pemilu, baik itu pileg atau pilpres, akan Anda lihat sebagai pertanda ketiadaan moral dan integritas. Tapi, bagi orang-orang yang hanya memikirkan tujuan, tindakan curang bukan masalah.

Sekarang, setelah nyata begitu banyak kecurangan yang terjadi dalam proses penghitungan suara pilpres 2019 (lebih 1,200 kali menurut catatan BPN Prabowo-Sandi), Luhut tidak merasakan semua itu sebagai kecurangan. Dia diam saja terhadap ratusan kejadian di lapangan dan di KPU yang berindikasi pencurangan suara Prabowo. Nah, sikap Luhut sangat kontras dengan prinsip moralitas Pak Prabowo.

Ada perbedaan ‘moral ingredients’ (ramuan moral) antara Pak Prabowo dan Luhut. Jadi, berdasarkan perbedaan moralitas yang tajam ini, tentulah tidak ada gunanya Pak Prabowo bertemu dengan Luhut meskipun Pak Menko memuja-muji ‘adiknya’ itu setinggi langit.

Sekarang ini, bukan saatnya untuk jumpa makan bersama seperti yang diinginkan oleh Luhut. Seluruh rakyat sedang sibuk mengawal suara Pak Prabowo.

Oleh : Asyari Usman, adalah Penulis wartawan senior.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru