Pilihan Strategi Mortification dalam Restorasi Citra Sukmawati Soekarnoputri

- Pewarta

Kamis, 21 November 2019 - 08:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diah Mutiara Sukmawati, adalah putri dari presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Diah Mutiara Sukmawati, adalah putri dari presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Opiniindonesia.com – Akhirnya Sukmawati Soekarnoputri mengambil pilihan strategi Mortification dalam upayanya untuk memperbaiki reputasi, dan pemulihan citra.

Strategi Mortification menjadi alternatif paling akhir yang disebut oleh Prof. William Benoit dalam Image Restoration Theory (teori pemulihan citra).

Strategi ini dinilai sangat elegan, karena mengakui kesalahan, dan dengan jelas meminta pengampunan atas kesalahan tindakan yang sudah dilakukan.

Bahkan srategi “penyiksaan diri” dalam teori Benoit pernah menjadi tema utama yang menarik dari tulisan pakar komunikasi yang lainnya, yaitu Burke.

Seperti diketahui, Sukmawati awalnya berbicara tentang perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan RI dari jajahan Belanda. Kegiatan itu sendiri dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2019. Sukmawati kemudian melontarkan pertanyaan kepada forum.

“Sekarang saya mau tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir Sukarno, untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau jawab berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini,” tanya Sukmawati seperti dalam video yang viral.

Rupanya, ucapan Sukmawati itu dinilai sebagai sebuah penistaan terhadap agama. Pihak Koordinator Bela Islam (Korlabi) meminta polisi segera mengusut laporan tersebut karena dituding membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Sukarno.

Laporan kepada polisi sangat serius, karena sudah dilaporkan resmi dan tertuang dalam nomor LP/7363/XI/2019/PMJ/Dit. Reskrimum, tanggal 15 November 2019.

SUKMAWATI MINTA MAAF

Setelah memberikan berbagai klarifikasi via media Sukmawati Soekmawati memberikan tanggapannya dalam program Sapa Indonesia Malam Kompas TV, Senin (18/11/2019).

Dilansir tayangan YouTube Kompas TV, Sukmawati meminta maaf kepada Kadiv Humas Polri. Pasalnya, pidato yang diduga memuat penistaan agama adalah pidato Sukmawati saat menjadi pembicara dalam acara yang diadakan Humas Polri.

“Saya mohon maaf kepada Kadiv Humas Polri yang selalu menjadi penyelenggara grup diskusi kepada masyarakat,” ucap Sukmawati.

Ia meminta maaf lantaran atas ucapannya membuat gaduh masyarakat.

Tahun lalu Sukmawati juga pernah menggunaan strategi ini pada (4/4/2018), ketika puisi ‘Ibu Indonesia’ ciptaannya yang telah memantik kontroversi karena ada teks yang berbunyi, “Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok, Lebih merdu dari alunan azan mu”

Sukmawati Soekarnoputri, ditemani Halida Nuriah Hatta, putri bungsu Mohammad Hatta atau Bung Hatta akhirnya meminta maaf atas puisi ‘Ibu Indonesia’ ciptaannya yang telah memantik kontroversi dan menyatakan sama sekali tidak berniat untuk menghina umat Islam. Dan setelah itu semua kontroversinya selesai.

SUKMAWATI PASCA MINTA MAAF

Proses hukum terus berlanjut. Sumawati pun sudah menyerahkan urusan ini kepada penasehat hukum dan pihak yang berwajib.

Dalam pandangan saya, strategi restorasi citra Mortification ini pilihan yang terbaik. Baik salah/tidak merasa salah, meminta maaf merupakan perbuatan yang terpuji, karena seseorang yang berani meminta maaf sejatinya telah menunjukkan keberaniannya dalam berkomitmen untuk bersegera memperbaiki diri.

Mengakui bersalah, dan meminta maaf dari orang-orang yang telah dirugikan atau tersinggung tentu baik. “Jika kita percaya permintaan maaf itu tulus, kita akan memaafkan suatu kesalahan” tulis Benoit.

Meskipun proses hukum berjalan terus, namun kegaduhan di masyarakat sudah berkurang jauh. Demikian juga di ruang media dan ruang publik.

Menurut saya Strategi Mortification ini terbukti sangat efektif sebagai upaya stategis untuk meredam krisis, memulihkan citra, atau reputation recovery, atau image restoration.

Oleh : Budi Purnomo S.IKom, M.IKom, praktisi media dan komunikasi, owner Budipurnomo.com

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru