Opiniindonesia.com – Sejujurnya dari media sosial entah apa saja jenisnya, banyak hal bisa diperoleh. Mulai dari belajar sabar, jujur, serius, fokus, memahami watak dan perangai orang, atau hanya sekedar ingin membaca karakter satu-satu audien yang menarik dari sikap baik dan buruknya.
Apalagi untuk seorang kawan semasa belajar dulu yang kini sudah relatif banyak berubah hingga semakin menarik dan perlu dipahami apa gerangan penyebabnya.
Tak semua memang sobat dan sahabat semasa belajar dulu yang kini sudah memiliki kedudukan penting di pemerintahan maupun dijalur profesional dan mereka yang sukses di swasta atau bahkan berkarier solo hingga menjadi tokoh penting atau setidaknya terbilang sudah menjadi publik figur itu tetap saja tak banyak berubah.
Sungguh tak sedikit pula sahabat pada masa lalu itu yang kini tetap ugahari, bersahaja, tak sombong, tak juga bergengsi untuk menyapa lebih dulu hingga bahkan ada yang agak berlebihan memberi penghormatan dengan berbagai cara dan gayanya meski sudah sukses dan berhasil duduk di puncak kariernya.
Ada juga sobat dan sahabat yang sangat tekun meniti jalur inteleknya di perguruan tinggi namun lebih dominan suka sekali merendahkan diri, tidak pongah. Meski ada saja satu atau dua diantaranya yang bergaya amtenar seperti kisah pada waktu Douwes Dekker bermukim di Lebak.
Begitu juga yang menjadi pejabat tinggi di pemerintah. Acapkali jadi sungkan walau cuma sekedar untuk bersua. Sebab acap kali sikapnya yang berlebih sopan santun dan hormatnya sehingga ada rasa khawatir bisamenjatuhkan martabat dan pamornya, baik sebagai pejabat atau sosok pribadi personalnya.
Agaknya jadi keliru bila ada orang yang masih punya anggapan bila media sosial tidak banyak manfaatnya. Atau hanya digunakan sekedar untuk berhaha-hihi saja.
Begitu juga untuk mereka yang justru jadi kekanak-kanakan seperti asyik bermain game saat jam kerja. Tak hanya pekerja kantoran di pemerintahan, tapi justru ada pula yang dilakukan oleh seorang pengajar yang sepatutnya harus menjadi tauladan.
Media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern yang ditandai oleh generasi milineal. Semua bisa diakses lebih awal lewat media sosial, sebelum misalnya mengaksesnya dengan cara langsung pada tujuan pokok dari apa yang sungguhnya dimaksudkan.
Baca Juga:
Creality Rayakan 12 Tahun Inovasi dengan KliTek™ dan Ekspansi Ekosistem Berbasis AI
EngineAI Resmikan Pabrik Cerdas di Shenzhen, Robot Humanoid T800 Mulai Dikirim secara Massal
Mau pulang ke kampung saja misalnya, bisa dikonfirmasi terlebih dahulu misalnya lagi musim hujan apa tidak atau sedang musim duren.
Pokoknya tak kurang banyak masalah yang dapat jadi mempermudah –atau bahkan memperindah hidup kita — dengan media sosial. Apalagi gambar audio dan visualnya bisa lewat video call.
Media sosial pun nyatanya bisa digunakan sebagai alat kampanye, promosi atau bahkan untuk mendulang suara pada pemilihan Presiden atau Kepala Daerah saat Pilkada.
Jadi masalah utama dalam memanfaatkan media sosial tinggal tergantung pada cara dan kemampuan kita dalam cara memanfaatkannya.
Baca Juga:
Gravity Game Unite (GGU) Tutup OBT MMORPG PC “Ragnarok Zero: Global” dengan Sukses Besar
Tak terlalu penting harus canggih — baik untuk alatnya maupun cara dan kemampuan kita menggunakannya. Sebab yang tidak kalah penting dari semua itu adalah kejelian kita untuk memahami manfaat apa yang dapat kita peroleh atau kita lakukan.
Mungkin saja melalui media WhatsApp atau facebooks bisa segera didapat info terkini dari berita keoknya Donald Trump oleh Biden pada pemilihan Presiden Amerika hari ini. Jadi yang penting adalah bagaimana memetik manfaat dari media sosial yang kini sudah tak lagi efektif bergantung pada media maentrim. Bisa jadi ini saatnya bagi media maenstrim berkaca diri.
Oleh : Jacob Ereste, Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Federasi Bank, Keuangan dan Niaga (F.BKN) K.SBSI.







