Wahai Buruh dan Kaum Pejuang, Teguhlah dalam Perjuangan

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 9 Oktober 2020 - 10:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja. (Foto : Instagram @jakarta.ku)

Unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja. (Foto : Instagram @jakarta.ku)

Opiniindonesia.com – Kita telah memutuskan untuk melawan, dan akan tetap teguh di jalur perjuangan, hingga Allah SWT menangkan perjuangan ini atau Allah SWT putuskan mengangkat kekuasaan rezim.

Kita akan tetap teguh di jalur politik, menempuh cara konstitusi, dengan tetap berada dijalanan, menyampaikan aspirasi didepan publik, hingga Presiden terbitkan Perppu pembatalan UU Cipta Kerja.

Kita tak akan membawa perkara ini ke MK, sebagaimana perjuangan terdahulu pernah dilakukan. Kita ketahui, semua ujung perjuangan di MK, hasilkan putusan tak berpihak kepada rakyat.

Kita, tak akan menjadi keledai dungu, jatuh pada lobang yang sama. Kita tak akan terjebak seruan politisi di Senayan, yang meminta kita mengubur harapan melalui gugatan di MK.

Mereka telah ngotot menzalimi kita, bagaimana kita bisa percaya saran mereka baik bagi kita ? Mereka ngotot sah kan UU Cipta Kerja, bagaimana mungkin kita mengikuti saran mereka ke MK ?

Ingatlah ! Kita akan tetap teguh, konsisten dalam jalur perjuangan politik. Kita berhak ‘ngotot’ meminta UU Cipta Kerja dibatalkan. Sebagaimana wakil kita di DPR, khianat dengan ngotot mengesankannya.

Lalu apa ujung perjuangan ini ? InsyaAllah kita pasti menang. Bagaimana mungkin 270 juta jumlah kita, kalah melawan kengototan 575 anggota DPR ? Bagaimana mungkin, seruan perlawanan kita akan dikalahkan, jika kita tetap teguh di jalur perlawanan ?

Wahai buruh, wahai kaum pergerakan. Tetaplah teguh di parit-parit perjuangan. Jangan mau dijebak oleh rezim, dengan melakukan ‘gencatan senjata’ lalu melakukan perundingan di MK.

Tetaplah melawan, untuk menang. Tetaplah saling menjaga amanah, jangan menghampiri istana dan menyerahkan urusan kalian kepada penguasa.

Siapapun yang merapat ke istana, dialah pengkhianat ! Siapapun yang mengendurkan perlawanan dengan mengajak berunding melalui majelis MK, dialah pengkhianat !

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru