AWALNYA AKU hanya ingin tahu dan ingin melihat saja. Tentang reuni 212 yg katanya di hadiri jutaan manusia.
Pukul 6’oo aku berangkat dari Depok menuju Monas. Titik tempat berkumpulnya alumni 212. Jam 7 kurang aku sudah sampai.
https://opiniindonesia.com/2018/12/05/2-kali-mata-saya-basah-di-reuni-akbar-alumni-212-yang-kedua/
Aku terkejut dan takjub, karena memasuki bunderan HI manusia sdh berjubel. Mobilku pun berjalan merayap di antara jamaah yang rata-rata berbaju dan berpeci putih.
Mereka begitu ramah mempersilahkan mobilku lewat. Namun aku tak bisa meneruskan, karena sudah tidak bisa masuk lebih jauh lagi dan jalan sudah dipadati manusia.
Seorang jamaah dengan sopan bertanya padaku, “Mau kemana Bu..!?”,
“Mau cari parkir pak”, jawabku tersenyum.
“Ibu mutar ke kanan terus lurus, 100 m dr sini ada tempat parkir di halaman gedung itu, masih bisa parkir”, katanya santun sekali.
Setelah berjalan terseok akhirnya sampai juga aku di gedung yang ditunjukan bapak tadi.
Baca Juga:
WEPACK 2027 Kembali Digelar di Shanghai, Satukan Seluruh Rantai Industri Kemasan
DBS Group Raih Gelar Bank Teraman di Asia untuk ke-18 Tahun Berturut-turut
Sungrow Hadirkan Solusi Microgrid Terintegrasi untuk Sektor Komersial dan Industri di Asia Tenggara
Selesai memarkir aku dan keluargaku keluar dari halaman gedung. Aku terkejut bahkan terperangah. Karena jalan sudah penuh sesak dengan lautan manusia.
Mereka kompak tanpa dikomando membaca sholawat dan mengibarkan ratusan bendera tauhid berwarna warni. Aku tahu bendera tauhid dari dunia sosmed.
Aku dan keluargaku pesimis, apakah mereka menerima kami untuk ikut nimbrung. Ataukah sebaliknya mrk akan mengusir kami. Dan aku pun berpikir bagaimana bila terjadi rusuh…!?.
Dalam situasi yg pesimistis dan kebimbangan. Tiba-tiba beberapa jamaah menghampiri kami, dan memberikan topi yg bertulisan tauhid. Dan anggota keluarga ku pun di berikan beberapa slayer. Kami di persilahkan ikut bergabung.
Baca Juga:
CGTN Luncurkan News Pal, Asisten Berita Berbasis AI
Debut Global All-New TIGGO7 dan TIGGOX7 di CHERY Brand Night, Usung Semangat “Together. For Family”
Blokees Pamerkan Lebih dari 900 Produk di China Toy Expo 2026, Terus Perkuat Daya Saing Produk
Rasa euporia menghinggapi keluarga. Kami rela berdesakan dg orang lain yang tak saling mengenal tapi jiwanya ada rasa kebersamaan.
Akupun tak dapat menahan tangis haru begitu juga anggota keluarga ku. Jutaan rasa yg menghinggapi kami membuat aku terisak. Beberapa jamaah memberikan tisue kepadaku.
Aku mengusap air mataku, belum pernah perasaan ini berkecamuk sebegitu dahsyatnya. Rasa takjub dan bangga belum pernah aku lihat manusia sebanyak ini begitu tertib.
Puji Tuhan…!!! Ini sungguh luar biasa.
Apalagi saat mendengar lantunan sholawat yang begitu kompak. Tak henti hentinya aku mengusap air mata yg menggenangi mataku.
Setelah berjalan sekian puluh meter.
Aku bertemu dengan rekan-rekan yang ku tahu mereka adalah non muslim. Rupanya mereka merasakan hal yg sama denganku.
Dan aku semakin lebih takjub, karena banyak yang non muslim pun berdatangan.
Ikut membaur dengan para jutaan jamaah.
Mereka pun tak membedakan kami, kami dapat snak dan minuman seperti jamaah yang lain.
Baca Juga:
Side Akuisisi Studio “Games Art” Skala Kecil Roboto Entertainment guna Memperkuat Layanan Kreatif
Operasi Pelatihan HelpMeSee di Guwahati Menjangkau 51 Dokter Mata di Seluruh India Timur Laut
Mereka memandang kami sebagai saudara.
Yg lebih mengharu birukan seorang nenek tua memelukku sambil menangis memberikan sebungkus nasi uduk.
Tuhanku, Rasanya lutut ini lemas tak berdaya. Air mata ini semakin deras membanjiri ku. Begitupun yg menyaksikan peristiwa ini.
Mereka seakan terbawa arus yg ku alami. Aku yg tadinya sempat menilai negatif thinking tentang ini semua. Jadi mendapatkan suatu nilai moral yang luar biasa.
Aku dan keluarga besarku yang biasa dengar Pasteur khotbah di gereja, atau denger Bhikkhu di vihara. Tak pernah sampai seharu ini…
Puji Tuhan. Di sinilah, di 212 lah aku menyaksikan dengan mata kepala ku sendiri.
Merekalah orang orang yang mempunyai hati terpilih. Yang mempunyai pesan moral yang tiada ternilai. Untuk menyikapi rasa persaudaraan sesama anak bangsa.
[Oleh : Siem Mei Hwa, Susi Melianawaty]









