FAHRI HAMZAH : Pelajaran Berharga, Jangan Mendewakan Pemimpin

- Pewarta

Senin, 15 Juli 2019 - 14:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Alkisah ada seorang raja yang sangat suka berpakaian mewah dan indah sehingga orang orang memuji dengan takjub.

Setiap hari kesibukan para menteri dan hulubalang raja adalah mencarikan penjahit dan baju terbaik bagi raja.

Rakyat kerajaan pun memiliki kesibukan rutin untuk menyaksikan pakaian baru raja dan memujinya dengan kagum dan Terpukau.

Sampai suatu hari raja mulai bosan dengan pakaian yang ada dan para penjahit yang tersedia dalam kerajaan.

Para hulubalang pun gelisah karena raja nampak sedih dan tidak berbahagia dengan apa yang dipakainya.

Sehingga diadakanlah sayembara untuk membuat pakaian terbaik bagi raja yang tak ada duanya.

Diantara para peserta tidak ada yang bisa memuaskan kehendak dan selera Raja.

Sampai pada suatu hari ada dua orang yang bisa meyakinkan para hulubalang menteri dan raja bahwa mereka punya koleksi.

Maka dipilihlah 2 orang tersebut yang ternyata adalah penipu yang sanggup berbual untuk memuji raja dengan pakaian yang mereka punya.

Masuklah raja ke kamar ganti pakaian bersama 2 orang yang mengaku memiliki koleksi pakaian istimewa bagi raja.

Ternyata di dalam kamar ganti dua orang itu setelah menyuruh raja telanjang mereka seolah memakaikan sesuatu ke badan raja.

Kata mereka “ini adalah pakaian terindah yang tidak nampak pada sembarangan mata memandang”, lalu raja pun percaya.

Raja kemudian keluar kamar dalam keadaan telanjang dengan 2 orang penipu yang terus memuji keindahan pakaian raja.

Semua mata yang melihat raja telanjang kaget dan heran bercampur cemas.

Tetapi karena melihat raja gembira dengan pujian dua penjahit terkenal itu mereka pun ikut memuji dan gembira.

Seisi istana pun memuji dan berdecak kagum serta bertepuk tangan gemuruh melihat raja melenggang lenggok bahagia.

Ketika keluar dari istana, rakyat yang kaget terpaksa ikut bertepuk tangan dan kagum dengan pakaian raja yang tak tampak oleh mata biasa.

Sampai seorang anak kecil lewat dan berlari di depan Raja sambil berteriak “Raja telanjang, raja tidak pakai baju!”

Kejujuran anak kecil itu telah membuka mata terbelalak kaget bagi semua orang yang sedang menyaksikan raja telanjang.

Raja pun menyadari bahwa anak kecil itu berkata jujur, dan dengan terburu-buru ia berjalan kembali ke istana.

Berterimakasihlah kepada seorang anak kecil yang melihat keganjilan pada diri pemimpinnya….lalu ia berteriak, “raja telanjang….raja telanjang….!”.

Orang2, terutama para pejabat yang sedang memuji gaun mewah sang raja terkaget. Anak kecil adalah kejujuran yang menampar!

Dalam tradisi feodal, salah satu kejujuran yang dilarang adalah jujur dalam menilai pemimpin. Dan kita memerlukan ketulusan anak kecil untuk berani berkata jujur. Anak kecil memiliki 2 kekuatan: pertama ia bebas dari hukum karena belum cukup umur, kedua berkata apa adanya.

Kita tidak mungkin kembali menjadi anak kecil agar bebas dari hukum. Tapi kita tetap harus bisa berkata apa adanya agar kebenaran tidak hilang. Tetaplah berkata benar, meski pahit. Tetaplah apa adanya. Jangan men-dewa-kan pemimpin sebab itu menjerumuskan bangsa.

[Oleh: Fahri Hamzah. Penulis adalah Wakil Ketua DPR RI]

Opini ini sudah dipublikasikan oleh Portal-islam.id.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru