Residu dan Anies Baswedan

- Pewarta

Jumat, 26 Juli 2019 - 14:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Peristiwa pertemuan Anies dan Surya Paloh tentu mengecewakan banyak pihak, seperti juga pertemuan Mega dan Prabowo. Tapi poin di berita ini, Eva mengatakan bahwa Jokowi sudah bekerja keras menggalang kekuatan besar dan Surya Paloh dikecam karena tindakannya akan menciptakan polarisasi baru. Katanya, Jokowi hampir berhasil menyingkirkan sisa-sisa kelompok masyarakat, alias residual. Surya Paloh dikhawatirkan akan memayungi residu itu.

Residu itu siapa? ummat Islam kah? lalu bagaimana dia jadi residu?

Dalam ilmu kimia dasar, setiap persenyawaan baru dari unsur-unsur yang semula, akan menyisakan sedikit bagian-bagian unsur itu yang tidak bisa lagi membentuk ikatan baru, alias jenuh. Karena Eva alumni Institute of Social Studies, The Hague, dalam ilmu sosial Durkheim mengenalkan istilah kelompok deviant, tapi itu kurang cocok juga.

Dalam pikiran Hegel dan Marx, malah persenyawaan itu tidak akan terjadi karena kalau kelompok masyaraktnya mempunyai idelisasi berbeda (hegel) atau mempunyai kepentingan material berbeda (marx). Kalau residual itu artinya kecil jumlah, jika merujuk Vilfredo Pareto, maka hukum Pareto adalah porsi 20% selalu mengontrol yang 80%.

Bagaimana cara berpikir Eva anggota DPR itu (dua kali DPR karena Pramono Anung mundur)? Apakah maksud Eva Jokowi sudah mengontrol semua kekuatan dan umat Islam adalah kelompok sisa-sisa? Khususnya setelah Prabowo terlihat mengemis-ngemis jabatan kepada Jokowi dan Mega?

Apakah Anies merupakan simbolisasi kelompok residual alias sisa? Tahukah Eva dalam konteks Otda dan kekhususan DKI, Anies itu kepala pemerintahan Ibu Kota? Dia mewakili negara untuk skala provinsi terbesar anggarannya.

Kebencian Eva terhadap Islam identitas tidak perlu membuatnya menafikkan bahwa Islam identitas itu sudah dominan di Indonesia. Baik dari segi narasi maupun jumlah.

Keliru besar Eva menerjemahkan Islam identitas sebagai residual. Ahistoris.

Keliru besar juga Eva menganggap Anies residual. Kakeknya Eva siapa? Sedangkan kakeknya Anies adalah founding fathers bangsa ini.

Mudah-mudahan nanti saya ketemu definisi dan teori sosiologi politik soal residual ini. Dan saya akan bahas lagi.

Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan. Penulis adalah Direktur Eksekutif Sabang Merauke Institute.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru