Perlawanan Budaya Terhadap Politic’s Dinasty dan Politik Uang

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 30 Juli 2020 - 15:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden RI, Joko Widodo dan Gibran Rakabuming Raka. (Foto : borneonews.co.id)

Presiden RI, Joko Widodo dan Gibran Rakabuming Raka. (Foto : borneonews.co.id)

Opiniindonesia.com – Politik dinasty, politik uang dan sebagaina itu merupakan proses dari tahapan budaya membentuk peradaban baru yang boleh jadi akan langgeng untuk beberapa waktu lamanya, tapi juga bisa sirna setelah melewati proses penyaringan dari warga masyarakat yang bersangkutan dimana perilaku serupa itu terjadi.

Semua akan sangat tergantung pada pencerapan warga masyarakat yang bersangkutan dimana budaya politik dinasty dan politik uang itu dilakukan. Perlawanan atau penolakan budaya seperti itu — atau justru sebaliknya, menerima–bisa saja langsung terlihat hasilnya. Jadi politik dinasty dan politik uang itu pun akan sangat ditentukan oleh warga masyarakat setempat. Jika saja warga masyarakat menolak, maka politik dinasty dan politik uang itu pun tidak perlu dirisaukan.

Yanv merisaukan hati adalah warga masyarakat tidak memiliki kemauan atau kemampuan untuk melakukan perlawanan budaya, atau lantaran keok tatkala harus bertarung dalam adu kegigihan dan ketangguhan.

Kerisauan warga masyarakat terhadap politik dinasty atau politik uang itu sebetulnya disebabkan oleh ketudak-yakinan diri untuk melawan dominasinya karena didukung okeh kekuatan lain yang ikut memainkan peranan dalam Pilkada ( Pemilihan Kepala Daerah) atau Pilpres (Pemilihan Presiden) atau bahkan dalam prisesi pemilihan Lurah hingga Ketua Rukun Warga dan Ketua Rukun Tetangga.

Politik dinasty dan politik uang toh berlangsung juga dalam pemilihan Ketua Umum Partai maupun organisasi kemasyarakatan dan sejenisnya yang umumnya mempunyai nilai lebih, entah dalam arti derajat kekuasaan entah pula dalam arti nilai ekonomi yang sangat menggiurkan atau sekedar prestise belaka.

Biasanya rebutan jabatan atau kedudukan yang dianggap bisa mendatangkan nilai lebih seperti itu, menjadi pemenatik dari politik dinasty dan politik uang seperti pantas dan patut dilakukan. Sehingga nama baik dinasty atau duit yang seabrek hendak diumbar itu jadi dianggap pantas dan patut dilakukan.

Padahal masalah utamanya tetap bergantung pada
masyarakat yang bersangkutan — yang menjadi penentu dari perolehan suara dalam pemilihan kandidat yang dijagokan itu.

Lha, kalau saja warga masyarakat setempat tidak mau memilih dan mau menjaga proses pemilihan berlangsung jujur, sesungguhnya tak ada yang perlu dan patut dikhawatirkan, jika sungguh sosok orang yang tak dikehendaki itu keluar sebagai pemenang dari pemilihan yang jujur dan adil itu.

Apalagi bila proses dari pemilihan Pilkada atau pun Pilpres itu bisa dipantau dengan cermat dan teliti sambil mendulang duit yang ditebarkan itu tanpa bisa mempengaruhi pilihan kita untuk figur yang lain, yang kita anggap paling layak, paling itu dan baik diantara kandidat yang lain.

Agaknya, politik dinasty dan politik uang tak perlu dirisaukan. Sebab yang penting adalah kedaulatan yang sesungguhnya itu tetap ada dalam genggaman kita sebagai rakyat dan bebas serta berani melakukan pengawalan, pengawasan serta perlawanan manakaka dicurangi atau dimanipulasi secara sistematis, terstruktur dan masif semacam yang sudah berulang-kali berlangsung dan membuat rakyat menjadi korban.

Politik dinasty dan polutik uang itu harus kita lalui dan harus pula kita hadapi dengan cara perlawanan budaya yang terstruktur, sistematis dan massif seperti politik dinasty dan politik uang itu mengecoh dan memperdaya kita.

Pendek kata, politik dinasty dan politik uang iharus dihadapi dengan budaya perlawanan. Lain ceritanya kalau kita sendiri pun menghendaki budaya seperti itu langgeng dan menjadi-jadi dalam budaya demokrasi kita.

Oleh: Jacob Ereste, Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Federasi Bank, Keuangan dan Niaga (F.BKN) K.SBSI.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Pengalaman Bertema Disney and Pixar’s Toy Story Hadir di SKAI

Rabu, 26 Agu 2026 - 15:08 WIB

Pers Rilis

SWI Group mempercepat transformasi menuju Infrastruktur Digital

Rabu, 26 Agu 2026 - 08:36 WIB