Sudah Tidak Efektif Lagi, Ancaman Sikat Seperti Ujaran Profesor Mahfud

Avatar photo

- Pewarta

Minggu, 8 November 2020 - 06:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menko Polhukam, Mahfud MD. (Foto : Instagram @mohmahfudmd)

Menko Polhukam, Mahfud MD. (Foto : Instagram @mohmahfudmd)

Opiniindonesia.com – Seperti pedagang kelontong keliling yang menjajakan barang dagangannya “panciii…keteel…piring…sikaaaat..”. Yang terakhir yaitu sikat, langsung dibeli oleh Menteri Koordinator Polhukam Mahfud MD. Ia bersiap siap menggunakan sikat tersebut untuk menyikat rombongan penyambut kedatangan Habib Rizieq Shihab dari Makkah tanggal 10 November 2020 jika berbuat rusuh.

Awalnya ia menganggap kecil persoalan penyambutan dengan menyatakan bahwa pengikut Habib Rizieq itu kecil dan HRS bukan orang suci, berbeda dengan kedatangan Khomeini saat Revolusi Iran tahun 1979. Khomeini itu orang suci, katanya.

Khomeini itu orang suci menurut Syi’ah menurut umat Islam tentu tidak, banyak kotornya juga. Khomeini itu politisi yang tidak suci. Banyak caci maki dan melanggar syar ‘i contohnya dalam buku “Thaharah 3/457” Khomeini berujar :

“Aisyah, Thalhah, Zubair, dan Muawiyah dan orang-orang sejenisnya lebih najis dari anjing dan babi”.

Menurut mantan shahabatnya Husein Al Musawi, Khomeini bejat akhlak karena menikahi anak gadis 4 tahun. Terdengar tangisan anak itu saat Khomeini tidur di sebelah kamar Musawi.

Nah, karena HRS bukan orang suci maka soal kedatangannya tak perlu dikhawatirkan.

Tapi kemudian rupanya Pak Menko ini khawatir juga. Respons umat Islam terhadap rencana kepulangan HRS cukup besar. Nah kekhawatiran ini yang membuat Mahfud mengancam akan main panci eh sikat. Seharusnya Pak Menko tahu kapan aksi seperti ini rusuh. Setiap aksi khususnya unjuk rasa buruh, mahasiswa, apalagi umat Islam itu sebenarnya baik-baik dan damai.

Muncul kerusuhan dan perusakan di ujung waktu adalah rekayasa. Ada spesialis perusuh bayaran dan peliharaan yang digunakan pihak tertentu. Mereka adalah pemancing dan pelaku yang anehnya sulit ditangkap. Kelompok “hitam’ inilah yang harus pak Mahfud sikaat hingga bersih. Mereka adalah biang kekacauan di negeri ini. Dimana-mana, pak.

Jadi tidak usah bapak main ancam segala. Koordinasi baik baik dengan aparat di bawah Menkopolhukam tentang langkah dan strategi untuk menyikat kelompok pengacau liar ini. Kita percaya Intelijen sudah banyak mendapatkan informasi dan data mengenai tim perusuh model seperti ini.

Prof Mahfud kan pernah menjadi aktivis, tokoh kritis, serta peneliti sosial politik yang tentunya tidak buta-buta amat sama urusan beginian. Karenanya berfikir jernih lah pada umat yang akan menyambut kembalinya HRS ke tanah air. Tak perlu nyinyir, gelisah, atau curiga berlebihan. Bekerjasama lebih baik daripada bermusuhan.

Mahfud harus kembali ke jatidiri sebagai cendekiawan dan guru besar yang disegani daripada menjadi pejabat plintat plintut yang omongannya dapat menyakiti umat.

Ataukah sebagaimana pernyataannya sendiri
bahwa “Malaikat pun dapat menjadi Iblis dalam sistem pemerintahan Indonesia” ?

Mahfud MD bukan Malaikat dan bukan Iblis, karenanya masih ada peluang untuk kembali ke jalan yang benar.
Daripada berkoar hendak menyikat penyambut HRS, lebih baik sikat bersih hatimu Pak Menteri. Wajahmu akan kembali berseri.

Oleh : M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru