Sahabat saya, Among Kurnia Ebo, sudah membuktikan kalimat sakti Mbah Nun tersebut.
Ia sudah keliling hampir ke 100 negara. Tidak menggunakan KTP. Tak bawa uang. Berbekal buku kecil berisi 48 halaman bernama paspor. Dan, kartu gesek!
Paspor adalah bentuk identitas warga dunia yang paling tradisional. KTP-nya warga dunia. Kelak juga akan berubah bentuknya.
Ebo sering berseloroh: Sebulan saja nggak terbang keluar negeri, badan saya pegal-pegal dan panuan!
Bagaimana dengan benda kecil yang menjadi bukti warga negara bernama KTP itu?
Kelak akan tidak bermakna lagi. Tak berbentuk lagi. Anda tidak akan lagi diminta menunjukkan benda lucu itu — kelak KTP akan jadi barang lucu dan aneh — untuk berbagai keperluan.
KTP akan berubah menjadi barang ghoib. Angka-angka digital yang tak terlihat mata. Berbentuk biometrik. Berbentuk pembacaan sidik jari secara digital, dan sebagainya.
Tak ada lagi ribut-ribut e-ktp palsu yang berceceran di jalan. Atau daftar pemilih ganda sebanyak puluhan juta seperti yang dipermasalahkan menjelang Pemilu.
Meski ada juga kejadian lucu saat demonstrasi Omnibus Law kemarin. Anak-anak sekolah yang ikut demonstrasi diancam akan sulit memperoleh pekerjaan. Alasannya, kepolisian tidak akan memberikan SKCK buat mereka. Ini kan pola pikir tahun 1980 an.
Selamat datang dunia baru. Selamat menikmati hari Minggu.
Mau berubah atau tidur ngorok, itu pilihan Anda. (*)
Oleh : Anab Afifi, Konsultan komunikasi dan penulis Buku.






