Demi Rakyat, Prabowo-Jokowi Tak Lakukan Pertemuan

- Pewarta

Jumat, 5 Juli 2019 - 13:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Santer di medsos agenda pertemuan Prabowo dengan Jokowi di bulan Juli. Kepastian belum terkonfirmasi. Dinamika politik selalu menarik. Meski kadang membuat leher tercekik atau kepala berputar putar, pening.

Tapi politik adalah hukum yang serba mungkin. Asal kata “policy” bermakna “kebijakan”, entah bijak sana atau bijak sini. Atau pijak sana pijak sini. Politik bisa bagian dari moral, bisa juga tak bermoral. Demi bangsa atau demi harta dan tahta. Politikus dapat menjadi negarawan atau menjadi tikus. Pencuri makanan dan penebar penyakit. Semua berkeliaran dengan motif masing masing, baik pribadi kelompok atau partai.

Pertemuan tidak selalu positif. Pertemuan silaturahim tentu wajar saja. Tetapi pertemuan Diponegoro dengan kolonial Belanda justru malapetaka. Jebakan politik.

Konon politik adalah tawar menawar para elite. Jika dijalankan maka dampak justru sangat terasa pada pendukung dan rakyat secara keseluruhan. Bagi elite selalu untung-untung saja. Sekurangnya jangka pendek.

Posisi Prabowo dilematis, di satu sisi mulai ada sandera berupa “goodwill” dilepasnya dari tahanan tokoh dan aktivis pendukung Prabowo-Sandi. Tentu tidak ada makan siang gratis. Kalimat terucap “terima kasih Prabowo” adalah berbiaya.

Di sisi lain Prabowo yang tetap merasa dicurangi ingin melanjutkan proses hingga Mahkamah Internasional. Relawan dan rakyat pendukung berharap lanjutkan perjuangan, tidak menyerah. Rekonsiliasi seperti rasional tapi sebenarnya tidak sederhana. Karena itu sama saja dengan pengakuan kekalahan diri atau kemenangan lawan.

Memang, Prabowo masih menggenggam kartu “kecurangan” untuk bargaining, akan tetapi “de jure” legalitas Jokowi menempatkan dirinya di atas angin. Perundingan merugikan Prabowo.

Pertemuan antara Jokowi dan Prabowo bulan juli demi persatuan nasional sepertinya mulia, tetapi sebenarnya menggelisahkan, khususnya bagi pendukung dan pejuang penegak kedaulatan rakyat. Bisa saja dianggap sebagai pengkhianatan perjuangan. Karena tak ada porsi kedaulatan yang bisa dinegosiasi. Hanya kepentingan kelompok dan partai saja yang mungkin sukses.

Bubarnya koalisi belum berarti lepasnya beban Prabowo di meja perundingan. Untuk partai mungkin iya, tapi pendukung non partai urusan lain. Ya, itu karena masalah kedaulatan rakyat yang terancam dan tak mungkin dinegosiasi. Pemerintah Jokowi disinyalir akan semakin jauh dari wujud kedaulatan ini. Posisinya menjadi “to be or not to be”, yakni perlawanan diametral.

Terapi terbaik adalah tidak melakukan pertemuan demi rakyat. Prabowo melanjutkan perjuangan sebagai “Presiden de facto” sambil melangkah di kancah internasional.

Jokowi bukan tanpa kelemahan. Ada segudang persoalan yang menderanya. Yakin bahwa esok akan ada perubahan politik. Prabowo harus keluar dari sekadar Ketum Gerindra menjadi Ketum perjuangan rakyat yang berkelanjutan. Tak perlu ada pertemuan hingga Oktober.

Manuver masih bisa dilakukan. Politik itu sarat kemungkinan. Bertahan di keyakinan adalah kekuatan yang akan terus bergaung. Jangan lari dari kepentingan rakyat yang bermisi mulia untuk menegakkan kedaulatan rakyat dan kedaulatan negara. Bertahan untuk menjadi pahlawan adalah “the only choice” satu satunya pilihan.

Oleh: M Rizal Fadillah. Penulis adalah Pemerhati Politik.

Opini ini sudah dipublikasikan Salam-online.com.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru