Gara-Gara Anies

- Pewarta

Senin, 22 Juli 2019 - 10:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Gara-gara Anies saya dicolek beberapa teman, lagi soal bambu. Setelah tiang bendera, kali ini soal getah-getih. Karya ini ada yang memuji ada pula yang mengolok-olok. Saat Joko Avianto memamerkan instalasi bambu seorang diri di Frankfurt 2015 lalu, karyanya dipuja dunia, tak seorang pun yang mengkritik. Joko Avianto telah mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional. Indonesia makin kuat image-nya terkait perbambuan, tak kalah oleh Cina, Jepang, dan Colombia. Saya kena dampaknya. Bulan depan ada mahasiswa arsitektur dari Jerman akan datang ke workshop saya untuk belajar bambu.

Eh, begitu Joko Avianto bersanding dengan Anies membuat instalasi bambu yang mirip dengan karyanya di frankfurt itu–justru jadi bahan olok-olok anak bangsa sendiri. Padahal, konsep dan makna instalasi bambu di Bundaran HI ini sangat kuat. Kalau boleh membandingkan, lebih kuat dari yang di frankfurt yang jadi gerbang masuk ke sebuah toko buku. Seperti yang dikatakan Anies dalam getah-getih, bahwa karya ini melambangkan persatuan. Ribuan batang bambu bulat dililit dengan bambu yang sudah digeprek sehingga menjadi ikatan yang lentur dan kuat. Joko Avianto, seniman lulusan ITB ini, berhasil mewujudkan pesan itu dalam karya seni yang luar biasa. Ia konsisten menggunakan bambu sejak awal kariernya terkait gagasannya perihal eksploitasi alam. Di dalam keterbatasan pengerjaan yang hanya dalam hitungan minggu, karya ini patut mendapat acungan jempol.

Sayangnya mata hati dan pikiran publik sudah tertutup oleh kebencian pada Anies. Banyak yang gagal membaca dan menemukan makna di balik karya ini. Tak bisa dipungkiri, karya ini akan membuka banyak tafsir, misal tentang lilitan silang siur yang berarti keruwetan, kerumitan. Untuk makna karya ini, entah sesuai dengan maksud sang seniman atau tidak, Anies sudah berusaha “memandu” dengan memberikan narasi getah getih. Meski begitu, cemo’oh tak berhenti, setelah KOMPAS meberitakan tentang biaya 550 juta, mereka mengkaitkan dengan pemborosan dan mark up. Menurut saya wajar ratusan juta habis untuk karya seni seperti ini. Terlalu murah, malah! Bambu memang harus “mahal” agar dihargai. Kalo murah, bambu akan selamanya diinjak-injak. Saya sudah mengerjakan ratusan proyek bambu, termasuk di antaranya seni instalasi. Untuk instalasi seni yang besar macam begini tidak bisa dihitung hanya dengan melihat harga bahan. Butuh perhitungan struktur, riset, ujicoba, dan lain-lain (lebih lanjut bisa baca comment Syaifudin Ihsar di bawah). Tugu jam yang saya buat di Malaysia, misalnya, harganya sekitar 150 juta, padahal hanya menggunakan bambu petung 8 batang dan apus 6 batang. Harga ini di luar transport lho ya.

Bambu yang dahulu sangat dihargai dan banyak manfaat, kini mewakili pedesaan, mewakili kemiskinan– citra bahan orang miskin. Ia nongkrong di inti ibukota. Jelas tidak cocok. Jelas timpang. Untuk pembacaan ini, para pembenci Anies benar. Memang itu pesan yang hendak disampaikan Joko Avianto: KONTRAS, TAPI TAK BISU. Instalasi seni berbahan 1.600 batang bambu ini dibentuk sangat dinamis. Saya menangkap pesan “perlawanan”. Ribuan bambu yang diikat kuat itu berdiri di antara gedung-gedung pencakar langit. Bahan untuk membangun gedung-gedung itu diambil dengan meruntuhkan bukit-bukit kapur dan melubangi bumi. Tak hanya itu, ketika beroperasi ia memboroskan energi yang luar biasa besar, antara lain listrik dan air–tabungan kita bersama.

Selain persatuan, karya Joko Avianto membawa pesan: “kami siap melawan kalian para raksasa!”

Dulu kita menghadapi penjajah dengan bambu runcing. Sejarah berulang, 73 tahun kemudian bambu dipakai untuk menyuarakan kemerdekaan dan persatuan. Sungguh pas dengan momen kemerdekaan hari ini. Kita tunggu beberapa hari ke depan, ketika bambu-bambu itu mengering, warna kuning awi surat akan membawa kesan berbeda–kuning bermakna sejahtera. Itu yang hendak dituju bangsa MERDEKA.

Oleh: Jajang Agus Sonjaya. Penulis adalah Direktur Bambubos.

Opini ini sudah dipublikasikan oleh Portal-islam.id.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru