Gubernur Anies Selamatkan Wajah Bangsa, Jakarta Kota Terbaik

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 2 November 2020 - 10:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. (Foto : Instagram @aniesbaswedan)

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. (Foto : Instagram @aniesbaswedan)

Opiniindonesia.com – Indonesia has won the 2021 Sustainable Transport Award! Congrutalations to the city for the exemplary achievement in public transportation, particularly with transjakarta. Begitu ungkap ITDP (Institut For Transportation and Developnent Policy) sebuah organisasi yang berbasis di New York.

Jakarta oleh ITDP dinobatkan sebagai kota terbaik dunia untuk managemen transportasi. Jakarta menyabet juara pertama Sustainable Transport Award (STA) 2021 atas program antarmoda transportasi publik. Ini untuk pertama kalinya negara di Asia Tenggara mampu menjuarai ajang STA.

Tahun lalu, Jakarta berada pada posisi runner up (nomor dua). Tahun ini juara pertama. Artinya, ada progres. Ini menunjukkan Jakarta terus mengalami perbaikan dan perkembangan.

Atas penghargaan ini, Anies telah menyelamatkan wajah Indonesia di mata dunia internasional, kata Andi Arief, politisi Demokrat. Benar kata Andi, di tengah krisis ekonomi dan rusaknya demokrasi Indonesia di mata dunia, Anies berhasil membawa Jakarta sebagai kota terbaik dunia.

Selamat Anies! Begitu ucapan yang disampaikan sejumlah kalangan kepada Anies Baswedan, gubernur DKI Jakarta. Alhamdulillah, ini untuk Pemprov DKI. Ini untuk warga Jakarta, tegas Anies.

Ada rasa syukur. Ada kerendahan hati. Anies sadar bahwa ini semua bukan semata-mata hasil kerja dirinya, tapi kolaborasi pegawai di Pemprov DKI bersama seluruh warga DKI. Anies pun tak risau jika prestasi ini dikait-kaitkan dengan dua gubernur sebelumnya. Karena memang, semua punya kontribusi. Tak hanya dua gubernur, tapi banyak gubernur sebelumnya. Mereka ikut berinvestasi sehingga Jakarta menjadi seperti saat ini.

Hanya saja, upaya menonjol-nonjolkan gubernur sebelumnya dengan cara menjatuhkan Anies yang terbukti berhasil menerima penghargaan atas kerja kerasnya membangun prestasi untuk ibu kota, tentu itu sikap tak bijak.

Perlu juga diingat, di bawah kepemimpinan Anies, Pemprov DKI Jakarta mendapat WTP berturut-turut dari BPK, dan tiga penghargaan dari KPK dengan berbagai kategori. Tentu ini tak bisa serta merta diklaim sebagai prestasi pemimpin sebelumnya. Begitu juga 9 penghargaan dalam bidang komunikasi publik yang baru-baru ini diraih oleh Pemprov DKI. Dengan tetap menghormati dan mengakui peran pendahulunya, Anies perlu kita apresiasi atas kemampuannya membawa Pemprov DKI meraih banyak prestasi.

Di mata publik, memang terasa tak adil. Jika terkait kasus Rumah Sakit Sumber Waras, tanah BMW, hasil reklamasi, dan kasus mangkraknya ratusan bus transjakarta, Anies harus menghadapi dan menyelesaikannya sendirian. Seolah tak ada keterlibatan pihak-pihak sebelumnya. Padahal, ini semua warisan masa lalu. Tapi jika menyangkut prestasi DKI, ada banyak pihak yang sepertinya tak rela dan ingin mengambil hak paten dari Anies. Tentu, ini tidak fair.

Kembali soal transportasi, Jakarta dianggap sangat ambisius membenahi transportasi kota, begitu komentar ITDP. Ini wajar mengingat Jakarta adalah kota yang secara turun temurun macet. Ini jadi PR prioritas yang harus segera diselesaikan. Melalui program Jaklingko, Anies berupaya mengurangi tingkat kemacetan.

Langkah Anies cukup berhasil. Dengan program Jaklingko, pengguna transportasi umum naik signifikan. Dari 360 ribuan di tahun 2017, menjadi lebih dari 1 juta di tahun 2020. Jakarta yang semula menduduki 4 besar kota termacet dunia, sekarang naik menjadi peringkat ke 10 (Tom Tom Traffic Index)

Tak hanya Jaklingko, pembangunan trotoar dan jalur bersepeda di jalan protokol juga bagian dari sinergi langkah Pemprov DKI untuk mengurangi kemacetan di Jakarta. Di masa pandemi, warga Jakarta yang beralih ke sepeda naik 10 kali lipat.

Program Jaklingko tidak saja menyatukan seluruh moda transportasi secara fisik, tapi juga biaya. 5000 rupiah, biaya yang cukup murah, hemat dan ekonomis untuk ukuran kota metropolitan seperti Jakarta.

Jadi teringat ucapan Anies: “Saya tak akan jawab dengan kata-kata, tapi saya akan jawab dengan kerja dan karya”. Anies nampaknya berhasil membuktikan ucapannya itu. Warga Jakarta, juga rakyat Indonesia akan menunggu bukti-bukti berikutnya.

Oleh : Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru