Kalau Menang Bersih, Untuk apa Bertemu Prabowo?

- Pewarta

Selasa, 11 Juni 2019 - 10:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengatakan, belum lama ini, bahwa pertemuan antara Jokowi dan Prabowo akan segera berlangsung. Sudah ada sambung rasa, tinggal tunggu waktu saja, kata mantan bawahan SBY itu.

Dari satu sisi, upaya untuk mempertemukan ‘pemenang palsu’ dan ‘pemenang asli’ pilpres 2019 itu, patut dihargai. Tetapi, di lain pihak, upaya ini sangat mengherankan. Sebab, kalau Jokowi benar-benar menang bersih, mengapa harus minta bertemu dengan Prabowo? Untuk apa bertemu? Abaikan saja!

Apa yang kalian takutkan kalau memang kalian menang dengan jujur dan adil? Apa yang kalian khawatirkan jika kalian menang tanpa kecurangan?

Barangkali supaya Anda kelihatan negarawan. Negarawan dari mana? Negarawan dari Republik Rakyat Ditipu (RRD)? Kalau negarawan dari republik ini, memang pas. Setuju sekali.

Atau, Anda ingin bertemu supaya Anda tampak merangkul semua elemen bangsa. Merangkul bagaimana? Yang kalian lakukan selama ini justru memecah-belah bangsa ini. Memecah-belah umat. Memecah-belah rakyat. Itulah yang kalian kerjakan.

Nah, mengapa kalian sibuk sekali berusaha mempertemukan Jokowi dengan Prabowo?

Simpel saja. Karena kalian tidak memiliki dasar moral yang kuat untuk mengklaim kemenangan. Kalian gelisah. Hati kalian tidak tenang. Karena kalian tahu persis Prabowo-lah yang menang di pilpres 2019 ini.

Sedikit-banyak, nurani ketakutan kalian muncul juga. Tak bisa disembunyikan. Kalian takut karena kalian tahu mayoritas rakyat memilih Prabowo. Kalian sadar betul bahwa kalian mencurangi Prabowo.

Saya yakin kalian sudah buat kalkulasi bahwa kalian tak akan bisa duduk tenang di atas kursi hasil perampokan kemenangan Prabowo. Kalian dikejar bayangan sumpah jabatan. Dikejar oleh kebohongan-kebohongan kalian sendiri.

Ini yang membuat kalian ingin sekali menjumpakan Jokowi dengan Prabowo Subianto (PS). Supaya nanti Pak PS bisa kalian rayu dengan senyum dajjal kalian. Agar Prabowo mau mengalah dan kemudian meminta rakyat agar tidak lagi menuntut penegakan kejujuran dan keadilan. Agar tidak lagi menuntut penegakan kedaulatan rakyat.

Kalian katakan bahwa sudah ada sambung rasa antara Jokowi dan Prabowo. Sahingga, satu klik lagi terjadilah pertemuan. Setelah pertemuan lahirlah legitimasi perampokan kemenangan itu. Inilah yang kalian inginkan.

Kalian katakan, ada sambung rasa? Sambung rasa yang bagaimana?

Bagi Pak PS, sambung rasa itu hanya punya satu makna. Yaitu, sambung rasa sebagai isyarat pengakuan kecurangan kalian. Mohon maaf sekali, menurut tafsiran ‘sambung rasa’ versi Kamus Besar Bohong Intensif (KBBI) tidak akan pernah ada kesetaraan antara ‘rasa tipudaya’ kalian dengan ‘rasa jujur’ Pak PS. Sebagai pemimpin yang bersih, tegas, dan lugas, insyaAllah Pak Prabowo tidak bisa lagi kalian tipu.

Mungki juga lebih pas ‘sambung rasa’ itu adalah ‘rasa bersalah’ kalian duduk sungkam di depan ‘rasa kesatria’ Prabowo. Atau, ‘rasa berdosa’ kalian bersimpuh di depan ‘rasa menang bersih’ Pak Prabowo. Selain rasa-rasa ini, tidak ada yang cocok buat kalian.

Tak akan mungkin tersambung ‘rasa gelisah’ kalian dengan ‘rasa tenang’ Prabowo yang menang tanpa curang.

Oleh: Asyari Usman. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Huawei Jadi Mitra bagi Ajang GSMA M360 ASEAN 2026

Jumat, 7 Agu 2026 - 00:42 WIB