Peluang Anies Baswedan dan Basuki Tjahaya Purnama Bersatu Sangat Mungkin Karena beberapa Faktor

- Pewarta

Minggu, 12 Mei 2024 - 07:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Basuki Tjahaya Purnama (Ahok)  dan Anies Baswedan (Dok. Jakarta Raya)

Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dan Anies Baswedan (Dok. Jakarta Raya)

Oleh: Didik J Rachbini, Rektor Universitas Paramadina

HARIANINVESTOR.COM – Politik sebenarnya hanya citra (image), persepsi dan bukan yang sebenarnya atau bukan sebenar-benarnya.

Dalam politik praktis dan proses politik di lapangan, persepsi baik atau buruk, persepsi toleran atau radikal.

Atau persepsi apa saja bisa dibentuk dengan gampang dan dengan berbagai cara dan metode.

Pertarungan politik Anies Baswedan dan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) di Jakarta beberapa tahun lalu dalam peratarungan persepsi.

Yang menjadi kenyataan dalam sekejab tetapi kemudian lenyap dalam sekejab berikutnya.

Banyak pihak yang takut kemenangan Anies di Jakarta akan menjadi monster politik radikal, yang tidak akan toleran terhadap keberagaman.

Baca artikel lainnya di sini : Ini yang Dibahas Presiden Jokowi dan PM Singapura Lee Hsien Loong akan Bertemu dalam Leader’s Retreat

Pilgub Jakarta adalah pilgub paling brutal dan jangan diulangi lagi.

Citra dan persepsi itu hanya dalam beberapa tahun lenyap ketika Anies hadir dalam pilpres dengan partai pendukung dari partai-partai nasionalis.

Baca artikel lainnya di sini : KPK Ingatkan Dokter RSUD Sidoarjo Barat Saat Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor Tak Penuhi Panggilan

Tim pemenangan di kanan kirinya juga datang dari kaum nasionalis, dengan latar belakang agama yang lengkap.

Dalam pilpres ini tidak ada lagi pertarungan citra radikal agama dan radikal sekuler, anti NKRI, dan rasisme.

Politik dan demokrasi yang terbuka seperti sekarang ini adalah pertanda baik.

Paling tidak dilihat dari sisi persepsi citra seperti ini – kecuali masalah etika dan nepotisme Jokowi.

Karena itu, gagasan politik menyatukan Anies dan Ahok di Jakarta adalah eksperimen yang baik dan berani.

Untuk membersihkan pencitraan politik menuju polarisasi radikal agama atau radikal sekuler.

Radikal sekuler di sini mirip-mirip radikal kiri yang anti agama.

Peluang Anies dan Ahok bersatu sangat mungkin karena beberapa faktor.

Pertama, Anies sejatinya seorang yang relegius tetapi tidak radikal seperti yang dipersepsikan ketika hadir dalam pilgub DKI dulu.

Kedua, Ahok memang temparamental, yang kadang-kadang tabu di dalam politik.

Namun, sesungguhnya Ahok adalah seorang yang nasionalis dilihat dari sejarah garis politiknya.

Ketiga, tidak ada lagi faktor pendorong keduanya ke arah radikal karena Anies sudah bisa tampil di dalam pilpres dengan citra nasionalis relegius biasa.

Keempat, Ahok juga akan bisa diterima publik.

Anies dan Ahok pasti berpikir positif jika paham gagasan seperti ini dari berbagai pihak yang hendal menjadikannya simbol kesatuan dari keduanya.

Anies masuk Jakarta mempunyai peluang menang sangat besar jika tidak kita katakan hampir 100 persen.

Anies punya prestasi di Jakarta, meskipun banyak kritik juga.

Jakarta Indah dan banyak hal diselesaikan, juga bagian dari prestasinya.

Dan Juga Anies semakin populer ketika menjadi capres.

Jika Anies tidak masuk politik dalam dalam 5 tahun ke depan maka namanya hilang dari peredaran.

Anies bukan pemimpin partai politik seperti Prabowo Subianto atau JK pada masanya.

Karena itu, masuk ke dalam politik di Jakarta adalah peluang yang baik tidak hanya bagi karir dirinya tetapi juga untuk bangsa untuk 2029 nanti.***

Sempatkan juga untuk membaca berbagai berita dan informasi lainnya di media online Adilmakmur.co.id dan Kalimantanraya.com

Sedangkan untuk publikasi press release di media online ini, atau pun serentak di puluhan media lainnya, dapat menghubungi Jasasiaranpers.com.

WhatsApp Center: 085315557788, 087815557788, 08111157788.

Pastikan juga download aplikasi portal berita Hallo.id di Playstore (android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik.

Berita Terkait

KPK Cegah Gus Yaqut ke Luar Negeri, Kasus Kuota Haji Rp1 Triliun Disorot
Isu Pemakzulan Gibran Ditanggapi Partai Golkar, Sekǰen Sarmuji Sebut Tak Ada Pelanggaran Berat Wakil Presiden
Indonesia Konsisten Dukung Palestina, Menko Yusril Ihza Mahendra Bantah Isu Normalisasi dengan Israel
Potensi Aklamasi dalam Pemilihan Ketua Umum PPP di Muktamar Pasca Amran Masuk Bursa
Dugaan Ijazah Palsu Jokowi, Polisi Periksa Ketua Umum PPN Andi Kurniawan Usai Laporkan Roy Suryo dkk
Beginilah 5 Jalan yang Dilakukan Press Release untuk Lakukan Perbaikan Citra dan Pulihkan Nama Baik
Mantan Wakil Presiden Ma’ruf Amin Sebut Kita Semua Tahu, Indonesia Saat Ini Sedang Tidak Baik-baik Saja
Soal Hubungan dengan SBY dan Jokowi, Prabowo Subianto: Saya Minta Masukan dari yang Berpengalaman

Berita Terkait

Selasa, 12 Agustus 2025 - 11:13 WIB

KPK Cegah Gus Yaqut ke Luar Negeri, Kasus Kuota Haji Rp1 Triliun Disorot

Kamis, 5 Juni 2025 - 11:51 WIB

Isu Pemakzulan Gibran Ditanggapi Partai Golkar, Sekǰen Sarmuji Sebut Tak Ada Pelanggaran Berat Wakil Presiden

Selasa, 3 Juni 2025 - 08:23 WIB

Indonesia Konsisten Dukung Palestina, Menko Yusril Ihza Mahendra Bantah Isu Normalisasi dengan Israel

Kamis, 29 Mei 2025 - 19:52 WIB

Potensi Aklamasi dalam Pemilihan Ketua Umum PPP di Muktamar Pasca Amran Masuk Bursa

Selasa, 29 April 2025 - 08:05 WIB

Dugaan Ijazah Palsu Jokowi, Polisi Periksa Ketua Umum PPN Andi Kurniawan Usai Laporkan Roy Suryo dkk

Berita Terbaru