Dua posisi ini membuat MUI strategis, karena akan diperhitungkan perannya tidak saja oleh umat Islam, tetapi juga rakyat Indonesia secara umum. Tidak saja secara politik, tetapi juga secara moral.
Meski demikian, MUI memiliki mekanisme tersendiri, yang berbeda dari umumnya organisasi, dalam memilih calon seorang pemimpin.
Dalam konteks pemilihan ketua, MUI memiliki sistem formatur.
Ada belasan ulama yang manjadi anggota formatur, diantaranya Ketua dan Sekjen MUI yang lama, perwakilan ormas seperti NU dan Muhammadiyah, serta yang lain-lain.
MUI adalah organisasi yang anggotanya adalah para ulama’, zuama’ dan cendekiawan muslim. Maka, otomatis kandidat yang akan dicalonkan adalah mereka yang tergolong ulama’, zuama’ atau cendekiawan muslim.
Kandidat yang muncul dan santer dibicarakan publik dalam Munas MUI kali ini diantaranya adalah K. H. Miftahul Ahyar, Rais Suriah PBNU.
Tokoh yang satu ini dikenal alim (tafaqquh fiddin), bersahaja dan sederhana.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






