Rencana Pidato “Kemenangan” Jokowi dan Gerakan Matikan TV

- Pewarta

Kamis, 11 Juli 2019 - 09:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Muncul gerakan matikan TV 14 Juli yang dikaitkan dengan rencana pidato “kemenangan” Jokowi sebagai Presiden menunjukkan adanya sikap penolakan terhadap mantan Wali Kota Solo tersebut . Citra kemenangan yang tidak fair tak mudah dihapus. Sebagian, tentu jutaan, warga negara menganggap Prabowo tidak kalah melainkan dikalahkan.

KPU, Bawaslu dan MK terkesan menjadi “hakim pemilu” yang tidak netral atau memihak. Wajar jika tidak mudah masyarakat atau rakyat dapat menerima “kekalahan” ini. Rekonsiliasi, negosiasi atau ikut koalisi tak mempengaruhi rakyat untuk mengubah pandangan dan keyakinannya itu. Jokowi bercitra buruk.

Akan tetapi yang kita persoalkan kini adalah gerakan “matikan TV” yang berarti penolakan untuk menonton TV. Media menjadi sasaran dari ketidakpercayaan. Media TV dinilai telah kehilangan fungsi “media” yang obyektif dan apa adanya. Apalagi saluran kepentingan rakyat. Telah memosisikan semata “corong penguasa” yang disebabkan faktor pemilikan TV oleh pengusaha yang memang menjadi “agen” dari kekuasaan tersebut. Ini persoalan besar yang dihadapi bangsa Indonesia.

Rembetannya bukan saja TV, tapi media massa cetak juga mengalami hal yang sama. Rakyat akhirnya menikmati media sosial yang dari, oleh, dan untuk mereka sendiri meski sedikit harus bekerja keras “memfilter” input yang mungkin saja hoaks.

Politik media yang mengabdi pada kekuasaan adalah khas pemerintahan otokrasi atau oligarkhi. Model sejarah ketatanegaraan Indonesia yang seperti ini adalah masa Demokrasi Terpimpin berlanjut di masa Orde Baru. Semua media oposan tak boleh hidup dan terjadilah pemberangusan. Sekarang memang tidak ada pemberangusan melainkan “memberangus sendiri” karena dikuasai atau dibeli oleh kelompok kepentingan, yaitu para pemilik modal.

Sudah bukan rahasia kolusi penguasa dengan pengusaha terjadi di saat ini. Rezim ini. Pemerintahan oligarkhi yang berkolusi dengan pengusaha media membentuk oligarkhi media. Kanal informasi satu arah yakni informasi partisan.

Rontok dan terkooptasinya media tak bisa dibiarkan, sebab akan memunculkan warga pemberang. Ketika gerakan “matikan TV” maka komentar muncul “Tak perlu dimatikan, TV sudah saya hancurkan kok” seolah merujuk pada tayangan orang orang saat menghancurkan TV karena jengkel pada siaran tentang pemerintah atau paslon tertentu saja.

Media korporasi menjadi sarana pembodohan, bukan pencerdasan. Membangun oligarkhi yang merusak. Apa yang dikatakan Bernie Sanders mungkin ada benarnya. “The corporate media ignores the rise of oligarchy. The rest of us shouldn’t!” Kita mesti menolaknya.

Oleh: M Rizal Fadillah. Penulis adalah Pemerhati Politik.

Opini ini sudah dipublikasikan Salamonline.com.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru